"Survei terbaru Pew Research Center mengungkap lonjakan kesadaran publik terhadap Christian nationalism di Amerika Serikat. Di tengah kebijakan pro-agama Donald Trump, mayoritas warga AS justru menolak campur tangan agama dalam politik dan pemerintahan"
Washington — Amerika Serikat kembali diguncang perdebatan panas soal agama dan politik. Istilah Christian nationalism atau nasionalisme Kristen kini semakin akrab di telinga publik AS, tetapi popularitasnya justru memicu kekhawatiran luas tentang masa depan demokrasi dan pluralisme di Negeri Paman Sam.
Survei terbaru Pew Research Center yang dirilis Kamis (14/5/2026) menunjukkan lonjakan drastis tingkat kesadaran masyarakat terhadap istilah tersebut. Sebanyak 59 persen warga AS kini mengaku pernah mendengar tentang Christian nationalism, melonjak 14 poin dibanding dua tahun lalu.
Namun menariknya, semakin dikenal bukan berarti semakin diterima. Data Pew menunjukkan mayoritas warga yang memahami istilah itu justru memandangnya secara negatif. Sebanyak 31 persen responden menyatakan tidak menyukai konsep tersebut, sementara hanya 10 persen yang mengaku mendukungnya.
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kecemasan publik terhadap kaburnya batas antara gereja dan negara di Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, sebanyak 37 persen warga AS merasa agama kini memiliki pengaruh yang semakin besar dalam kehidupan nasional. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak Pew mulai mengukur persepsi serupa 24 tahun lalu.
Meski begitu, paradoks tetap terlihat. Sebanyak 61 persen responden masih percaya agama sebenarnya sedang kehilangan pengaruh di Amerika. Di sisi lain, lebih dari separuh warga tetap menilai agama membawa dampak positif bagi masyarakat.
Polarisasi politik pun makin tajam. Kelompok white evangelical Protestant tercatat sebagai pendukung paling kuat keterlibatan agama dalam urusan publik dan pemerintahan. Sebaliknya, mayoritas pendukung Partai Demokrat menolak keras segala bentuk pencampuran agama dengan politik negara.
Perdebatan makin memanas setelah pemerintahan Donald Trump secara agresif mengusung agenda religious liberty atau kebebasan beragama. Pemerintahannya membentuk Religious Liberty Commission serta satuan tugas khusus anti-diskriminasi terhadap umat Kristen. Langkah itu dipuji kelompok konservatif, tetapi dikritik lawan politik sebagai upaya memperkuat identitas Kristen dalam negara sekuler.
Di tengah situasi tersebut, sekitar 17 persen warga AS kini mendukung gagasan agar pemerintah federal secara resmi menyatakan Kristen sebagai agama negara. Angka itu memang belum mayoritas, tetapi meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berada di level 13 persen.
Meski demikian, resistensi publik terhadap campur tangan gereja dalam politik tetap sangat kuat. Sebanyak 79 persen warga AS menolak gereja atau rumah ibadah secara terbuka mendukung kandidat politik tertentu.
Perdebatan tentang Christian nationalism diperkirakan semakin panas menjelang festival doa besar di National Mall, Washington DC, yang dihadiri sejumlah tokoh konservatif dan aktivis keagamaan nasional.
Para akademisi juga mengingatkan bahwa istilah Christian nationalism kerap digunakan terlalu luas dan emosional. Sebagian orang memaknainya sekadar nostalgia terhadap budaya Kristen tradisional Amerika, sementara kelompok lain mengaitkannya dengan supremasi agama dan eksklusivisme politik.
Meski definisinya masih diperdebatkan, survei Pew memperlihatkan satu hal yang semakin jelas: masyarakat Amerika kini makin sadar akan kebangkitan identitas agama dalam politik, tetapi pada saat yang sama tetap menolak ekstremisme dan dominasi agama di ruang publik.
Ketegangan ini kembali memperlihatkan dilema klasik Amerika Serikat — bagaimana menjaga identitas religius tanpa mengorbankan prinsip pluralisme di tengah masyarakat yang semakin terbelah secara politik dan budaya.
(Pew Research Center, Christianity Today, Washington Post, OSV News)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.