Berita

Doa atau Politik? Acara Trump Diserbu Pendeta Anti-Islam dan Anti-Paus, Publik AS Heboh

Acara doa nasional Donald Trump bertajuk Rededicate 250 menuai kontroversi setelah menghadirkan tokoh evangelikal dengan rekam jejak anti-Islam dan anti-Paus. Kritik soal nasionalisme Krist…

Doa atau Politik? Acara Trump Diserbu Pendeta Anti-Islam dan Anti-Paus, Publik AS Heboh
Berita 16 Mei 2026 71 views

Ukuran font

100%
"Acara doa nasional Donald Trump bertajuk Rededicate 250 menuai kontroversi setelah menghadirkan tokoh evangelikal dengan rekam jejak anti-Islam dan anti-Paus. Kritik soal nasionalisme Kristen hingga penggunaan dana publik pun mencuat"

WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memantik kontroversi nasional menjelang gelaran akbar bertajuk “Rededicate 250: A National Jubilee of Prayer, Praise & Thanksgiving” yang dijadwalkan berlangsung di National Mall, Washington DC, Minggu (17/5/2026).

Acara berdurasi sembilan jam itu dipromosikan Gedung Putih sebagai perayaan religius dan patriotik untuk memperingati 250 tahun Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Namun, alih-alih mempersatukan publik, agenda tersebut justru memicu gelombang kritik karena menghadirkan tokoh-tokoh evangelikal konservatif dengan rekam jejak pernyataan anti-Islam dan anti-Paus.

Sorotan utama tertuju pada penulis dan komentator konservatif Eric Metaxas. Dalam sejumlah pernyataan publik sebelumnya, Metaxas menyebut Islam sebagai “evil” dan bahkan mengatakan Islam “bukan agama”. Ia juga menyerang Paus Leo XIV dengan menyebut pernyataan sang paus sebagai “pious blather” hingga “Marxist garbage”.

Nada serupa datang dari pendeta Franklin Graham, sekutu lama Trump. Graham pernah menyebut ajaran Islam sebagai “seedbed for terrorism” atau ladang tumbuhnya terorisme. Ia juga mengecam Paus dengan tudingan membawa “socialist Marxists pablum” ke dalam gereja.

Kehadiran mereka di panggung utama memunculkan pertanyaan besar soal arah politik acara tersebut. Apalagi, sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Trump dijadwalkan hadir, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Ketua DPR Mike Johnson.

Kritik semakin keras karena mayoritas pembicara berasal dari kalangan evangelikal konservatif kulit putih, dengan minim representasi gereja arus utama maupun komunitas Black Protestant yang selama ini menjadi bagian penting sejarah kekristenan Amerika.

Rachel Laser, Presiden Americans United for Separation of Church and State, menyebut acara itu bukan sekadar doa nasional.

“Ini lebih tepat disebut Jubilee of Christian Nationalism,” kata Laser dalam pernyataannya.

Kontroversi ini juga terjadi di tengah memanasnya hubungan Trump dengan Paus Leo XIV, paus pertama asal Amerika Serikat. Ketegangan mencuat setelah Paus mengkritik pendekatan politik global yang disebutnya sebagai “delusion of omnipotence” atau khayalan kekuasaan absolut dalam konflik Timur Tengah, termasuk eskalasi dengan Iran.

Trump kemudian membalas kritik itu dengan menyebut Paus sebagai sosok “weak” atau lemah dalam menghadapi ancaman global.

Situasi tersebut membuat acara Rededicate 250 dinilai banyak pihak bukan lagi sekadar perayaan spiritual, melainkan panggung politik yang memperkuat agenda konservatif religius menjelang tahun politik Amerika.

Di media sosial, perdebatan terus memanas. Pendukung Trump menganggap acara itu sebagai bentuk kebangkitan moral dan patriotisme Amerika. Sebaliknya, kelompok sipil dan pegiat lintas agama menilai penggunaan dana publik untuk agenda bernuansa politik-agama berpotensi melanggar semangat pemisahan gereja dan negara.

Kini publik Amerika menanti: apakah acara itu benar-benar menjadi momentum persatuan nasional, atau justru memperdalam jurang polarisasi yang semakin tajam di era Trump jilid dua.

(Sumber: HuffPost, Yahoo News, Religion News Service, The Guardian, Fox News)

Editor: OYR

Bagikan Artikel

Acara doa nasional Donald Trump bertajuk Rededicate 250 menuai kontroversi setelah menghadirkan tokoh evangelikal dengan rekam jejak anti-Islam dan anti-Paus. Kritik soal nasional…

Tags

Donald Trump Rededicate 250 Trump vs Paus anti Islam nasionalisme Kristen Franklin Graham Eric Metaxas Jack Graham Amerika Serikat politik AS Paus Leo XIV evangelikal kontroversi Trump National Mall berita dunia

Percakapan Jemaat

Komentar

0 komentar ditampilkan.

Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda.

Tulis Komentar

Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.

Komentar akan masuk antrean moderasi sampai disetujui moderator.

Publikasi Terkait

Bacaan Lainnya

Lihat daftar

Persembahan & Donasi

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Umum & Pembangunan

Bank BCA

8870566159

Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S

Persepuluhan

Bank BCA

8870566701

Ester Joice P atau Rahel Natalia S

Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.

KONFIRMASI SEKARANG

Hubungi Kami

Kapel Alfa

Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39-40, Jakarta Selatan

Telepon: 0815-1341-3809

WhatsApp: 6281513413809

Pos PI HOPE

Ruko Maisonette No. 42, Jl. Raya Joglo, Jakarta Barat

Telepon: 0812-1085-0659

WhatsApp: 6281210850659

Pos PI Hineni Rehobot

Kota Kertabumi Commercial Estate B-35, Karawang Barat, Jawa Barat

Telepon: 0895-6182-11600

WhatsApp: 62895618211600