GKRIDC.COM © 2019

Konser Etnik Batak:

Katergazesthe: “Tetaplah Kerjakan Keselamatanmu”

Filipi 2: 12-13


Penulis: Yosi Rorimpandei | pada 19 Februari 2019 08:30 | 667x dibaca | komentar

Saudara-saudaraku yang terkasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2: 12-13)

Pertanyaan yang paling sering diajukan setiap kali membaca nats di atas adalah “apakah kita diselamatkan karena usaha atau pekerjaan kita ataukah karena anugerah Allah?” Di dalam Efesus 2: 8 dan 9, Rasul Paulus menulis, “Sebab karena anugerah kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allahitu bukan hasil pekerjaanmu, supaya tidak ada orang yang memegahkan diri”. Apakah kedua bagian dari tulisan Rasul Paulus ini bertentangan?

Sama sekali tidak! Pertama, karena kata perintah “tetaplah kerjakan” diterjemahkan dari kata Yunani: katergazesthe, yang mengandung arti bahwa kita mengerjakan sesuatu yang sudah kita peroleh, seperti seorang petani yang diberi tanah, kemudian diberi perintah untuk mengerjakan tanah itu. Itulah sebabnya, dalam Alkitab Terjemahan Baru LAI ditambahkan kata “tetaplah”, yang sebenarnya tidak ada dalam teks Yunaninya.

Kedua, pernyataan Rasul Paulus dalam nats ini lebih untuk menekankan pentingnya kemandirian jemaat di Filipi setelah ia tidak lagi bersama-sama dengan mereka. Ini tercermin dari frasa heautôn sôtērian, yang secara harfiah berarti “keselamatanmu sendiri” (dalam TB-LAI hanya diterjemahkan “keselamatanmu”) dan penjelasan tambahan “tetapi terlebih lagi sekarang waktu aku tidak hadir”.

Keselamatan yang kita peroleh dalam Kristus haruslah menjadi keselamatan yang aktif, bukan keselamatan yang pasif. Bukan karena kita telah diselamatkan lalu kita menjadi umat yang hanya menantikan kedatangan Kristus kedua kali. Sebaliknya, keselamatan yang kita peroleh di dalam Tuhan Yesus Kristus, memberi kita tanggung jawab terhadap diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

Untuk mengerjakan keselamatan itu, maka kita perlu kembali pada tugas panggilan gereja, dimana kita sebagai jemaat dipanggil untuk bersaksi (marturia), bersekutu (koinonia), dan melayani (diakonia). Semua tugas panggilan ini hendaknya dilakukan dalam konteks dimana kita berada sekarang, sebab selama kita berada di dunia, maka merupakan tugas kita untuk mensejahterakan dunia ini, sehingga Kerajaan Surga itu menjadi nyata di tengah-tengah dunia, dimana kita melayani.

Dalam hal “bersaksi” (marturia), kesaksian kita bukanlah berorientasi pada penambahan jumlah orang percaya, melainkan bagaimana supaya Injil Kristus dapat dikenal orang lebih luas. Karena itu, kita perlu kembali pada makna “Injil” itu sendiri, yaitu “Kabar Baik” atau “Kabar Sukacita”, sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus sendiri, ketika Ia menyembuhkan orang sakit, membela orang-orang yang menjadi korban ketidakadilan, menegakkan hukum, dan membebaskan manusia dari segala dosa. Itulah kesaksian yang hidup dan berdampak besar terhadap perubahan dunia ke arah yang lebih baik.

Selanjutnya, “bersekutu” (koinonia) menekankan pada penampakan keesaan sebagai “tubuh Kristus”. Penampakan itu tercermin dalam ibadah dan kebersamaan dalam menjalankan setiap tugas sebagai jemaat. Karenanya, kita dituntut untuk membangun semangat persaudaraan di dalam Kristus, dimana kita dapat saling belajar, saling menopang, saling memelihara dan saling melengkapi, bukannya saling menebar fitnah, saling menjatuhkan, apalagi menyebabkan perpecahan dalam jemaat.

Panggilan untuk “melayani” (diakonia) menekankan bagaimana kita secara aktif menebarkan kasih kepada orang lain, baik dalam hal-hal yang bersifat darurat (karitatif), misalnya bantuan untuk para korban bencana alam, orang sakit, kelaparan, maupun hal-hal yang bersifat jangka panjang (transformatif), misalnya membantu mereka yang membutuhkan pendidikan, pelatihan dan pendampingan supaya dapat keluar dari situasi yang buruk.

Ketiga tugas panggilan ini melekat dalam diri kita sebagai orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Kristus. Maka, sesuai dengan tema bulan ini, kita dipanggil untuk tetap setia mengerjakan tugas-tugas itu, sehingga Kristuslah yang senantiasa dimuliakan. [ ]

Penulis

author image
Pdt. Yosi Rorimpandei

Penulis adalah Pendeta di GKRIDC dan memiliki pengalaman dalam pelayanan dan pengajaran Kristen


ARTIKEL LAINNYA
POPULER MINGGU INI
DAPATKAN UPDATE

KATEGORI