Seri Surat Roma

Dibenarkan Oleh Iman

Roma 1: 16-17
Bagikan di:

“...Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya... Sebab, di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman”
Bdk. Roma 1: 16-17

 

PENGANTAR SURAT ROMA

Penulis

Pada pasal 1: 1 penulis surat ini langsung mengidentifikasi dirinya sebagai “Paulus, hamba (doulos) Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul (apostolos) dan dikhususkan untuk memberitakan Injil Allah”. Meskipun ada pandangan yang menolak bahwa penulisnya adalah Rasul Paulus, tetapi sebagian besar ahli Perjanjian Baru tidak meragukannya. Bukan semata-mata lantaran apa yang dituliskan pada pasal 1: 1 ini, tetapi juga karena banyaknya kecocokan antara apa yang tertulis dalam Kisah Para Rasul, surat-surat Paulus lainnya, dengan yang ada di dalam surat ini mengenai pengalaman pelayanan Rasul Paulus (bdk. 15: 25-27 dengan Kis. 19: 21; 20: 1-5; 21: 15-19. Lihat juga 1Kor. 16: 1-5; 2Kor. 8: 1-12, dan 9: 1-5). Di bagian penutup surat ini disebutkan juga tentang Tertius, “yang menulis surat ini” (16: 22). Para ahli mengatakan bahwa Tertius berperan sebagai “juru tulis” atau “amanuensis” Paulus.

Hanya saja, kapan persisnya surat ini ditulis, masih menjadi polemik. Dalam 15: 25 dikatakan bahwa Paulus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan atau diakonia bagi orang-orang kudus di Yerusalem. Dalam 16: 1-2, Paulus menyinggung soal Febe di Kengkrea, sementara dalam 16: 23 ia juga berbicara tentang Gayus, yang memberinya tumpangan. Kengkrea merupakan salah satu kota pelabuhan kuno di Korintus. Sementara, Gayus yang ia sebutkan di 16: 23 kemungkinan adalah Gayus yang sama dengan yang ia sebutkan dalam 1Kor. 1: 14. Ia juga merupakan orang Korintus. Karena itu, dari dua petunjuk ini dapat disimpulkan bahwa surat Roma ditulis ketika Paulus berada di Korintus. Jika kita membaca dalam Kis. 18, maka diceritakan bahwa Paulus pernah mampir beberapa hari di Korintus dalam salah satu perjalanan misinya.

Dari semua petunjuk ini, maka diperkirakan surat ini ditulis antara akhir tahun 55 M atau awal 56 M.

Surat Roma

Salah satu keunikan surat Roma adalah merupakan satu-satunya surat Paulus yang dikirimkan kepada jemaat yang tidak dirintisnya dan belum banyak dikenalnya, sehingga isi surat Roma tidak banyak berbicara tentang nasihat-nasihat yang berkaitan dengan situasi dan kondisi jemaat di sana, melainkan lebih fokus pada pemaparan pemikiran teologis Rasul Paulus. Surat ini menjadi surat Paulus yang paling panjang dan paling dogmatis, bahkan bisa disebut sebagai surat yang paling berpengaruh. Mungkin karena alasan itulah surat ini ditempatkan paling depan di antara surat-surat Paulus lainnya.

Alasan lain yang patut dipertimbangkan adalah posisi kota Roma itu sendiri. Kota ini merupakan ibu kota Kerajaan Romawi, kerajaan super power yang menguasai dunia kala itu, baik secara politik, ekonomi, seni dan budaya, ilmu pengetahuan maupun militer. Paulus sangat menyadari posisi strategis kota ini, bahkan telah menjadi target jangka panjangnya untuk kelak memberitakan Injil ke kota yang dijuluki “ujung bumi” itu (bdk. 15: 22-33). Dalam Kis. 1: 8, Tuhan Yesus—sebelum terangkat ke Surga—memberi amanat kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil atau menjadi saksi-saksi-Nya sampai ke “ujung bumi” (eskhatos t­es g­es), dan bukan sebuah kebetulan bahwa seluruh kisah panjang Kisah Para Rasul berakhir dengan tibanya Rasul Paulus di kota Roma (Kis. 28: 11-31).

Sebagai kota yang menjadi pusat seluruh kegiatan vital Kerajaan Romawi, maka Paulus merasa perlu mengirimkan suratnya kepada jemaat di kota Roma. Memang kota Roma tidak menjadi “prioritas utama” dalam misi pemberitaan Injil oleh Rasul Paulus. Hal itu dijelaskannya dalam 15: 18-21, yaitu karena sudah ada gereja di kota itu, sementara Rasul Paulus lebih fokus memberitakan Injil di tempat-tempat dimana Injil belum diberitakan. Tetapi, panggilan untuk segera menyurati jemaat di Roma tampaknya karena adanya ancaman perpecahan di sana. Ancaman perpecahan itu dipicu oleh adanya rupa-rupa pengajaran (bdk. 16: 17-20), termasuk ajaran Rasul Paulus yang telah diputarbalikkan oleh orang-orang tertentu (bdk. 3: 8; 6: 1-2, 15), serta polemik antara orang-orang Kristen-Yahudi dan Kristen non-Yahudi (bdk. 2: 1-29; 3: 1, 9; 11: 11-36). Karena itu, surat ini dituliskan Paulus dengan sangat teratur dan sistematis, memuat porsi-porsi “dogmatis”, yang intinya bahwa “Injil adalah kekuatan Allah” (1-11) dan “etis”, yang intinya mengenai “pola hidup orang-orang percaya” (12-15.

Rasul Paulus menulis surat ini dengan gaya tanya-jawab, khas tulisan-tulisan apologetis zaman itu, sebagai bentuk pengajaran dan sekaligus pertanggungjawabannya atas pemikiran-pemikirannya.

Ada beberapa permainan kata yang kerap digunakan Rasul Paulus, misalnya ai­ōn (selama-lamanya) dan ai­ōnios (kekal); dikaios (benar) dan dikaiosun­ē (kebenaran); pisteu­ō (percaya) dan pistis (iman).

***

 

Minggu II (10 Maret 2024) – Pra-Paskah IV

ALLAH TIDAK MEMANDANG MUKA

Roma 2: 1-16

FOKUS: “TUHAN tidak pernah kompromi dengan dosa manusia”

Pengantar Nats:

Roma 1 dan 2 secara gamblang menguraikan keadaan manusia akibat dosa. Dosa telah merusak, baik orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi. Karena itu, Rasul Paulus menegaskan bahwa hukuman Allah (krima) tidak hanya akan dirasakan oleh orang-orang non-Yahudi, tetapi juga oleh orang-orang Yahudi. Allah tidak akan memihak kepada “bangsa pilihan-Nya”, justru karena status “pilihan” itu dan karena adanya Taurat maka kepada mereka akan dimintai pertanggungjawaban lebih. Rasul Paulus menekankan bahwa hukuman Allah akan berlangsung secara adil, tanpa memandang muka. Ada tiga ukuran yang menjadi dasar hukuman Allah, yaitu “terang alam” bagi orang-orang tidak percaya, “terang Taurat” bagi orang-orang Yahudi, dan “terang Injil” bagi orang-orang percaya.

Pembahasan:

Seringkali kita menjadikan status “orang percaya” sebagai privillege untuk memperoleh kebebasan di dunia ini, seolah-olah dengan percaya kepada Kristus, maka kita dapat hidup menurut nafsu duniawi kita, mengabaikan nilai-nilai moral, serta “cuek” terhadap segala dosa. Jika memang demikian, dimana keadilan Allah? Iman di dalam Kristus tidak serta merta membuat orang-orang percaya bebas dari hukuman Allah. Setiap perbuatan dosa ada konsekuensinya di hadapan Allah.

 

Minggu III (17 Maret 2024) – Pra-Paskah V

DIBENARKAN KARENA IMAN

Roma 3: 21-31

FOKUS: “Iman dan Kuasa Injil Kristus”

Pengantar Nats:

Rasul Paulus menekankan bahwa hukum Taurat (nomos) yang mendakwa tidak akan dapat membenarkan kita, sebab hukum berfokus pada upaya membuka luka kita, sehingga kecil kemungkinannya untuk mengobatinya. Hukum digunakan untuk menyelidiki, bukan menyembuhkan. Hukum menyingkapkan pelanggaran kita, pada saat yang sama menyatakan konsekuensi atas pelanggaran itu, sehingga bercermin kepada hukum sama saja dengan membongkar aib kita. Karena itu, harapan untuk memperoleh kesembuhan dan pembenaran hanya mungkin datang dari iman (pistis) kepada Kristus. Dengan iman kepada Kristus, kita tidak lagi berada di bawah kuasa hukum Taurat, melainkan hidup dalam kuasa Injil. Dengan iman kita melihat harapan akan pembenaran berdasarkan anugerah Allah.

Pembahasan:

Pemikiran Rasul Paulus tentang “hukum vs iman” atau “Taurat vs Injil” memang sangat kompleks dan perlu kehati-hatian untuk memahaminya. Pola pikir yang diuraikan Rasul Paulus di sini tidak sesederhana mengatakan bahwa “Taurat itu kutuk dan Injil itu selamat”. Tidak juga sesederhana mengatakan bahwa “keselamatan hanya ada dalam Kristus”, sehingga kita dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa “percaya saja kepada Yesus maka kita selamat!”. Kita perlu memahami apa yang dimaksud Paulus dengan “hukum” (nomos), apa itu “iman” (pistis), serta apa itu “pembenaran” (dikaiosunē). Iman kepada Kristus justru meneguhkan Taurat.

 

Minggu IV (24 Maret 2024) – Pra-Paskah VI (Minggu Palma/ Palem)

KASIH MEMENUHI HUKUM TAURAT

Roma 13: 8-14

FOKUS: “Hidup dalam kasih”

Pengantar Nats:

Bagi Paulus, hidup dalam kasih adalah pemenuhan hukum, sebab pada dasarnya esensi dari hukum adalah “kasih”. Ada perdebatan soal apakah “hukum” pada ay. 8 merujuk pada Taurat atau “hukum” dalam pengertian umum, sebab dalam teks Yunaninya tidak ada kata sandang pada kata nomos. Tetapi, kutipan hukum yang dipaparkan pada ayat-ayat berikutnya justru memperjelas bahwa hukum di sini berbicara tentang Taurat.

Pembahasan:

Ketika Tuhan Yesus ditanya mengenai perintah yang terutama, Ia menjawab dengan dua kata perintah penting: “kasihilah Tuhan Allahmu...” dan “kasihilah sesamamu manusia...” (bdk. Mat. 22 dan Mrk. 12). Ini menjadi dasar dari pemikiran Paulus bahwa “mengasihi itu memenuhi hukum”, sebab hukum diberikan Allah untuk menuntun manusia agar bisa hidup dalam kasih dan jauh dari dosa. Kasih menutupi banyak sekali dosa (bdk 1Ptr. 4: 8).

 

Jumat Agung (29 Maret 2024)

DIBENARKAN OLEH DARAHNYA

Roma 5: 1-11

FOKUS: “Memaknai kematian Kristus bagi kehidupan orang percaya”

Pengantar Nats:

Dasar dan sumber pembenaran iman adalah di dalam kematian Tuhan Yesus Kristus, yaitu di dalam aliran darah yang mulia. Ada tiga hal penting yang disoroti Rasul Paulus dalam perikop ini: Pertama, buah-buah dari pembenaran iman (ay. 1-5); Kedua, watak dan sifat orang-orang pada saat Kristus mati bagi kita (ay. 6-8); dan ketiga, buah-buah kematian Kristus (ay. 9-11).

Pembahasan:

Kematian Kristus bukan sekedar jalan pendamaian kepada Allah, tetapi sekaligus merupakan ungkapan kasih Allah yang besar ketika keadaan kita sedang lemah (bdk. Yoh. 15: 13-14). Kematian Kristus menghasilkan tiga buah: pembenaran dan pendamaian (pengampunan dosa); keselamatan (dari murka Allah); dan sukacita (bermegah dalam Allah).

 

Minggu Paskah (31 Maret 2024)

HIDUP SEBAGAI ALAT KEBENARANNYA

Roma 6: 1-14

FOKUS: “Melakukan kehendak Allah”

Pengantar Nats:

Rasul Paulus menjawab pertanyaan penting dalam perikop ini, yaitu apakah anugerah (kasih karunia) membolehkan kita untuk hidup dalam dosa? Justru sebaliknya, Paulus menggunakan analogi “baptisan”. Dalam anugerah Allah, kita telah dibaptis dalam kematian Kristus, dan dengan demikian kita juga dibangkitkan bersama Kristus. Kebangkitan bersama Kristus memberi kita “tubuh baru”, dan kita punya tanggung jawab untuk tidak menghambakan diri kita lagi ke dalam dosa.

Pembahasan:

Anugerah atau kasih karunia bukan berarti menjadikan kita hidup bebas dalam dosa. Hidup baru di dalam Kristus seperti memperoleh pembasuhan baru, menjadikan kita bersih. Karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam keadaan yang baru itu, tidak lagi dalam keadaan berdosa. Kita dipanggil untuk tidak lagi menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa, melainkan untuk melakukan kehendak Allah.

Bagikan di:

Penulis:

Yosi Rorimpandei

Koordinator Komisi Pengajaran GKRIDC

Pelayanan Kategorial

DC Kids

Pelayanan Anak
0895-1771-8474

Youth Habakuk

Pelayanan Remaja & Pemuda
0821-1303-2727

Debora

Pelayanan Kaum Perempuan
0812-9744-1129

Efata

Pelayanan Kaum Pria
0853-1083-3921

Permohonan Doa

Jika Saudara membutuhkan dukungan doa khusus untuk didoakan di setiap jam doa kami, silakan mengisi Form Permohonan Doa.

Klik Di Sini

Kontak

Kontak Kami

Jika Saudara membutuhkan informasi atau layanan konseling, silakan menghubungi kami.

Alamat:

KAPEL ALFA
Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39
Jakarta Selatan

WhatsApp:

+62815-1341-3809