"Delapan warga Kristen tewas dan 10 lainnya luka dalam serangan malam terkoordinasi di Bassa, Barkin Ladi, dan Riyom, Plateau State, Nigeria. Kekerasan berulang konflik petani-penggembala kembali menimbulkan korban jiwa"
PLATEAU, DC News — Gelombang kekerasan bersenjata kembali mengguncang wilayah “Sabuk Tengah” (Middle Belt) Nigeria. Setidaknya delapan warga penganut Kristen tewas dan sepuluh lainnya luka-luka dalam serangkaian serangan terkoordinasi yang menyasar pemukiman penduduk di Negara Bagian Plateau, Minggu (19/4/2026) malam hingga Senin dini hari.
Serangan ini menambah panjang daftar catatan hitam konflik agraria dan sektarian di wilayah tersebut. Menurut laporan International Christian Concern (ICC) dan sumber lokal di lapangan, serangan terjadi hampir bersamaan di tiga wilayah pemerintahan daerah (LGA), yakni Bassa, Barkin Ladi, dan Riyom.
Insiden pertama pecah sekitar pukul 20.00 waktu setempat di Kpasho, Distrik Kwall, LGA Bassa. Sekelompok pria bersenjata menghadang empat pemuda yang tengah melintas menggunakan sepeda motor. Satu orang tewas seketika di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya mengembuskan napas terakhir setelah sempat dilarikan ke rumah sakit. Dua pemuda lainnya dilaporkan mengalami luka serius.
Selang dua jam kemudian, serangan berpindah ke komunitas Hurum Gashish NTV di LGA Barkin Ladi. Para penyerang memberondong warga dengan senjata api secara membabi buta. Empat orang dilaporkan tewas di tempat, dan lima lainnya luka-luka.
Eskalasi Konflik
Kekerasan di Plateau sering kali berakar pada sengketa lahan yang berkepanjangan antara petani menetap yang mayoritas beragama Kristen dan penggembala nomaden Fulani yang mayoritas Muslim. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, eskalasi kekerasan telah meluas menjadi serangan terhadap identitas agama dan etnis.
Data dari Christian Daily International mencatat bahwa sejak awal April 2026, lebih dari 150 orang tewas dalam serangkaian serangan serupa di Sabuk Tengah Nigeria. Pada akhir Maret lalu, sebuah serangan di Jos North bahkan menewaskan 30 orang, yang memicu pemberlakuan jam malam oleh otoritas setempat.
Nanpet Dala, relawan dari International Community on Nigeria (ICON), mengungkapkan bahwa situasi di lapangan sempat memanas ketika petugas keamanan menangkap empat pemuda setempat dan melabeli mereka sebagai teroris. Hal ini memicu aksi protes warga yang memblokade jalan, menuntut pembebasan rekan mereka sekaligus mendesak perlindungan keamanan yang lebih nyata.
Respons Otoritas
Hingga berita ini diturunkan, juru bicara Kepolisian Negara Bagian Plateau, Alfred Alabo, belum memberikan keterangan resmi terkait detail pengejaran para pelaku. Kendati demikian, unit militer tambahan dilaporkan telah disiagakan di titik-titik rawan untuk mencegah serangan balasan.
Para pemimpin gereja di Nigeria terus menyerukan intervensi internasional, menilai bahwa pemerintah pusat di Abuja gagal menghentikan apa yang mereka sebut sebagai “pembersihan sistematis” terhadap komunitas agraris di wilayah tengah. Kondisi perubahan iklim yang mempersempit lahan gembala di utara diyakini menjadi katalis utama yang mendorong kelompok pastoral ke selatan, memicu benturan berdarah yang tak kunjung usai. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.