"Serangan brutal militan Fulani di Plateau State, Nigeria, menewaskan 13 warga Kristen termasuk tiga perempuan hamil. Kekerasan bersenjata kembali memicu sorotan dunia terhadap krisis kemanusiaan dan konflik agama di Nigeria"
ABUJA, Nigeria – Tragedi berdarah kembali mengguncang Nigeria. Sedikitnya 13 warga Kristen tewas dalam serangan brutal yang diduga dilakukan kelompok militan Fulani bersenjata di komunitas Ngbra Zongo, Distrik Kwall, Bassa County, Plateau State, Jumat (8/5/2026) dini hari.
Serangan terjadi ketika sebagian besar warga masih terlelap. Para pelaku disebut bergerak dari rumah ke rumah sambil melepaskan tembakan membabi buta. Tiga perempuan hamil termasuk di antara korban tewas. Puluhan warga lainnya mengalami luka serius, sementara ratusan penduduk memilih melarikan diri meninggalkan desa demi menyelamatkan nyawa.
Juru bicara komunitas Miango, Joseph Chudu Yonkpa, menyebut penyerangan itu bukan sekadar konflik biasa, melainkan aksi teror yang terencana.
“Mereka datang saat orang-orang tidur. Ini bukan konflik lahan semata, tetapi pembantaian yang disengaja,” kata Yonkpa.
Warga setempat, Lawrence Zongo, mengungkapkan bahwa komunitas mereka berulang kali menjadi target serangan serupa dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya, seorang pendeta dan puluhan warga juga dilaporkan tewas dalam rentetan kekerasan di wilayah tersebut.
Situasi Plateau State memang terus memanas sepanjang 2026. Hanya dua pekan sebelum serangan terbaru ini, Pendeta Ayuba Choji bersama istrinya, Chundung, serta dua anak mereka, Cyril dan Endurance, dibantai di rumah mereka di kawasan Rim pada 26 April lalu.
Pimpinan Evangelical Church Winning All (ECWA) menyebut keluarga tersebut sebagai martir dalam gelombang “genosida berkelanjutan” terhadap umat Kristen di Nigeria.
Data Open Doors World Watch List 2026 menempatkan Nigeria sebagai negara paling mematikan bagi umat Kristen di dunia. Organisasi tersebut mencatat ribuan korban jiwa akibat kekerasan ekstremis dan konflik bersenjata dalam beberapa tahun terakhir.
Para analis menilai konflik di Nigeria dipicu kombinasi perebutan sumber daya alam, tekanan perubahan iklim, hingga berkembangnya ideologi radikal bersenjata yang menargetkan komunitas Kristen di wilayah tengah negara itu.
Meski kekerasan terus berulang, pemerintah Nigeria dinilai lamban merespons. Berbagai kelompok hak asasi manusia internasional, termasuk USCIRF, mendesak Abuja segera mengambil langkah tegas untuk melindungi warga sipil.
Di tengah duka yang terus membayangi Plateau State, suara para korban dan keluarga yang kehilangan kini menggema lebih keras: sampai kapan darah warga tak berdosa terus mengalir di Nigeria?
(Sumber: Morning Star News/Christian Daily International, Truth Nigeria, International Christian Concern, Open Doors World Watch List 2026, laporan komunitas Plateau State)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.