"Israel dituding menghancurkan biara dan sekolah Katolik di Yaroun, Lebanon selatan. Gereja Melkit mengecam keras tindakan militer Israel di tengah konflik Hezbollah dan gencatan senjata yang rapuh"
BEIRUT, DC News — Ketegangan perang di Lebanon selatan kini memantik kemarahan kalangan gereja Katolik Timur Tengah. Dewan Uskup Gereja Katolik Melkit Lebanon mendesak pemerintah Lebanon dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera bertindak melindungi situs keagamaan dan harta warga sipil yang berada di wilayah pendudukan militer Israel.
Seruan itu muncul setelah sebuah konven Katolik di desa Yaroun, dekat perbatasan Israel-Lebanon, dilaporkan dihancurkan menggunakan buldoser militer Israel.
Para uskup menyebut penghancuran tersebut sebagai “luka mendalam bagi hati nurani bangsa dan kemanusiaan”.
Laporan penghancuran pertama kali disampaikan tokoh komunitas Kristen Yaroun, Adib Ajaka, serta pimpinan Basilian Salvatorian Sisters, Gladys Sabbagh. Mereka menyatakan kompleks konven beserta sekolah yang dikelola para biarawati kini telah berubah menjadi puing.
“Yang kami dengar, bangunan itu dihancurkan dengan buldoser,” kata Sabbagh kepada Associated Press.
Namun, militer Israel membantah sengaja menargetkan bangunan keagamaan. Israel Defense Forces (IDF) mengklaim lokasi tersebut sebelumnya dipakai Hizbullah sebagai titik peluncuran roket ke wilayah Israel.
Dalam pernyataannya, IDF menyebut pasukan hanya merusak bangunan yang “tidak memiliki tanda religius jelas” dan menghentikan operasi setelah mengetahui keterkaitannya dengan institusi gereja.
Israel juga merilis foto bangunan yang diklaim masih berdiri utuh di area tersebut. Akan tetapi, warga Kristen setempat membantah foto itu merupakan konven yang dihancurkan. Mereka menyebut bangunan dalam foto adalah klinik dan kantor keuskupan yang berada di sebelah kompleks biara.
Insiden Yaroun memperpanjang daftar kehancuran infrastruktur sipil dan keagamaan di Lebanon selatan sejak perang terbaru Israel-Hizbullah meletus pada Maret 2026.
Meski gencatan senjata diumumkan pada 17 April lalu, operasi militer Israel di wilayah perbatasan terus berlangsung. Tel Aviv menyatakan operasi tersebut bertujuan menghancurkan jaringan dan infrastruktur Hizbullah.
Namun di lapangan, laporan media internasional dan kelompok gereja menyebut ratusan rumah, fasilitas umum, hingga tempat ibadah ikut hancur.
Kekhawatiran komunitas Kristen Lebanon juga meningkat setelah viral video seorang tentara Israel merusak patung Yesus di desa Debel beberapa pekan lalu. Insiden itu bahkan menuai kecaman dari pejabat Israel sendiri.
Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, perang terbaru telah menewaskan sedikitnya 2.696 orang dan melukai lebih dari 8.200 lainnya.
Di tengah upaya diplomasi Amerika Serikat yang disebut tengah mendorong pertemuan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, ribuan warga Lebanon kini masih menunggu kepastian kapan mereka bisa kembali ke kampung halaman yang porak-poranda.
(Sumber: AP, Times of Israel, Arab News, L’Orient Today, NPR, Al Jazeera)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.