"Israel akan menggelar festival LGBTQ+ terbesar di Timur Tengah di Laut Mati pada Juni 2026. Acara ini menuai kritik dari sejumlah kalangan Kristen konservatif"
TEL AVIV, DC News — Israel dijadwalkan menjadi tuan rumah festival LGBTQ+ berskala besar di kawasan Laut Mati pada 1–4 Juni 2026. Acara bertajuk Pride Land ini disebut sebagai festival LGBTQ+ terbesar yang pernah digelar di kawasan Timur Tengah.
Informasi mengenai penyelenggaraan acara tersebut diumumkan melalui akun resmi Kementerian Luar Negeri Israel di platform X (dulu Twitter). Dalam unggahannya, kementerian menyebut Laut Mati—yang dikenal sebagai titik terendah di Bumi—akan menjadi lokasi perayaan empat hari penuh yang mengusung tema komunitas, koneksi, dan keberagaman.
Festival ini diprakarsai oleh produser Aaron Cohen bersama X Production. Cohen menyatakan, penyelenggara menggelontorkan investasi besar untuk mengubah kawasan tersebut menjadi “kota Pride” sementara. “Kami membangun sebuah kota dari nol di tengah gurun, dengan fasilitas lengkap yang beroperasi selama 24 jam,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Konsep Pride Land mencakup sekitar 15 hotel, area pantai, panggung pertunjukan utama, ruang seni dan budaya, hingga zona ramah keluarga. Sejumlah artis Israel yang dijadwalkan tampil antara lain Dana International—pemenang Eurovision 1998—Harel Skaat, Ran Danker, Ivri Lider, serta sejumlah DJ dari komunitas LGBTQ+.
CEO X Production, Jonathan Gadol, menegaskan bahwa festival ini tidak dimaksudkan menggantikan parade Pride tahunan di Tel Aviv, yang selama ini dikenal sebagai salah satu perayaan LGBTQ+ terbesar di dunia. Menurut dia, Pride Land justru dirancang untuk memperluas destinasi wisata inklusif di Israel, khususnya di kawasan Laut Mati yang selama ini dikenal sebagai tujuan wisata kesehatan dan alam.
Reaksi dari kalangan Kristen konservatif
Lokasi penyelenggaraan festival memicu kritik dari sebagian kalangan Kristen konservatif, terutama di Amerika Serikat. Laut Mati kerap dikaitkan dengan kisah Sodom dan Gomora dalam Alkitab, yang disebut dalam Kitab Kejadian sebagai kota yang dihancurkan karena dosa besar.
Sejumlah tokoh agama menilai pemilihan lokasi tersebut tidak sensitif secara religius. Pastor Tom Ascol, tokoh dari Southern Baptist Convention, menyampaikan kritik melalui media sosial kepada Duta Besar Israel untuk AS. Ia menyebut kegiatan tersebut berpotensi menimbulkan kegelisahan di kalangan umat Kristen konservatif.
Namun, para ahli menekankan bahwa lokasi pasti Sodom dan Gomora masih menjadi perdebatan ilmiah. Beberapa arkeolog mengaitkannya dengan situs Bab edh-Dhra dan Numeira di bagian tenggara Laut Mati, sementara teori lain menempatkannya di wilayah berbeda.
Israel dan isu LGBTQ+ di Timur Tengah
Israel selama ini dikenal sebagai negara dengan kebijakan relatif lebih terbuka terhadap komunitas LGBTQ+ dibandingkan negara lain di Timur Tengah. Homoseksualitas telah didekriminalisasi sejak 1988, dan sejumlah kebijakan perlindungan sipil bagi pasangan sesama jenis telah diterapkan, meskipun pernikahan sipil sesama jenis belum diakui secara penuh di dalam negeri.
Tel Aviv secara rutin menjadi tuan rumah parade Pride internasional yang menarik ratusan ribu peserta setiap tahun. Data dari Kementerian Pariwisata Israel menunjukkan acara tersebut juga menjadi salah satu daya tarik utama wisatawan mancanegara.
Meski demikian, penyelenggaraan acara besar seperti Pride Land tetap menghadapi tantangan, termasuk faktor keamanan regional dan dinamika politik domestik. Pada beberapa kesempatan sebelumnya, agenda Pride di Israel sempat dibatalkan atau diubah formatnya karena situasi keamanan.
Penyelenggara menyatakan penjualan tiket dan paket akomodasi akan segera dibuka, termasuk opsi premium yang mencakup penginapan di hotel sekitar kawasan Laut Mati. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.