"Israel dilaporkan menolak izin tinggal Pastor Louis Salman, pastor muda asal Yordania yang dicintai pemuda Kristen Palestina. Kepergiannya memicu tangis massal di Beit Sahour dan sorotan baru soal kebebasan beragama di Tanah Suci"
BEIT SAHOUR, PALESTINA — Tangis ratusan pemuda pecah di Gereja Latin Our Lady of Fatima, Beit Sahour, kota kecil dekat Bethlehem yang diyakini sebagai kampung para gembala dalam kisah kelahiran Yesus. Mereka mengantar kepergian Father Louis Salman, pastor muda asal Yordania yang selama bertahun-tahun menjadi figur spiritual penting bagi generasi muda Kristen Palestina.
Misa perpisahan pada Minggu (11/5/2026) berubah menjadi suasana emosional. Banyak jemaat menangis, memeluk sang pastor, bahkan berlutut ketika ia menyampaikan pesan terakhirnya sebelum meninggalkan Palestina.
Father Louis Salman, 36 tahun, terpaksa hengkang setelah otoritas Israel menolak memperpanjang izin tinggalnya. Keputusan itu disebut muncul usai sang pastor menjalani pemeriksaan keamanan intensif yang dinilai tidak biasa.
Sejumlah sumber gereja menyebutkan, pengaruh besar Father Louis di kalangan pemuda Kristen Palestina menjadi perhatian otoritas Israel. Sikapnya yang kerap menyuarakan kritik terhadap pendudukan Israel juga disebut ikut memicu penolakan izin tinggal tersebut.
Nama Father Louis sebelumnya dikenal luas setelah memimpin doa dan prosesi pemakaman jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, yang tewas ditembak saat meliput operasi militer Israel di Jenin pada 2022. Peristiwa itu memicu kecaman internasional dan menjadi simbol penderitaan warga Palestina di tengah konflik berkepanjangan.
Kepergian Father Louis kini dipandang bukan sekadar kasus administratif biasa. Banyak kelompok Kristen menilai peristiwa ini sebagai bagian dari meningkatnya tekanan terhadap komunitas Kristen Palestina di Tanah Suci.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai organisasi HAM dan lembaga gereja internasional mencatat meningkatnya intimidasi terhadap rohaniwan Kristen, pembatasan akses ke tempat-tempat suci di Yerusalem dan Bethlehem, hingga aksi pelecehan oleh kelompok pemukim ekstremis Yahudi.
Latin Patriarchate of Jerusalem menyatakan keprihatinan mendalam atas keputusan tersebut. Mereka menilai keberadaan para imam asing dari Yordania, Lebanon, Suriah, dan Mesir sangat penting bagi keberlangsungan pelayanan gereja di wilayah Palestina.
Bagi para pemuda di Beit Sahour, Father Louis bukan sekadar pastor. Ia dikenal aktif mendampingi anak muda yang hidup di tengah tekanan konflik, pengangguran, dan ketidakpastian masa depan. Melalui Gerakan Pemuda Kristen Palestina, ia membangun berbagai kegiatan sosial, pendampingan iman, hingga ruang aman bagi generasi muda.
“Dia memberi kami harapan ketika banyak orang kehilangan harapan,” ujar salah satu jemaat muda usai misa perpisahan.
Kasus ini kembali menyoroti posisi komunitas Kristen Palestina yang terus menyusut. Data gereja menunjukkan populasi Kristen di Tanah Suci terus menurun akibat konflik, tekanan ekonomi, migrasi, dan ketidakstabilan politik.
Di tanah yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus, komunitas Kristen kini menjadi minoritas kecil yang hidup di tengah pusaran konflik Israel-Palestina yang tak kunjung selesai.
Hingga kini, pemerintah Israel belum memberikan penjelasan resmi secara rinci terkait alasan penolakan izin tinggal Father Louis Salman.
(Premier Christian News, Independent Catholic News, IMEMC, Middle East Monitor, Quds News Network, Vatican News, Reuters – Mei 2026)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.