"Penelitian DNA terbaru menemukan jejak tanaman pangan pada Kain Kafan Turin, mengindikasikan kontaminasi selama berabad-abad dan memperkuat perdebatan soal keasliannya"
ROMA, — Studi genetika terbaru mengungkap keberadaan DNA dari berbagai tanaman pangan pada Kain Kafan Turin (Shroud of Turin), kain yang diyakini sebagian umat Kristen sebagai pembungkus jenazah Yesus Kristus.
Penelitian yang dipublikasikan dalam bentuk preprint di platform bioRxiv pada Maret 2026 ini dilakukan oleh tim internasional yang dipimpin ahli genetika Gianni Barcaccia dari University of Padua, Italia. Para peneliti menganalisis sampel debu dan serat kain yang dikumpulkan pada 1978 menggunakan pendekatan metagenomik.
Hasilnya menunjukkan keberadaan fragmen DNA dari beragam spesies tanaman. Di antaranya, DNA wortel (Daucus carota) terdeteksi paling dominan, diikuti gandum roti (Triticum aestivum). Selain itu, ditemukan pula jejak tanaman lain seperti jagung, tomat, kentang, kacang tanah, hingga pisang.
Menurut para peneliti, keberagaman DNA tersebut mencerminkan riwayat panjang interaksi kain dengan manusia dan lingkungan. “Temuan ini menggambarkan kompleksitas biologis kain akibat paparan selama berabad-abad,” tulis tim peneliti dalam laporan mereka.
Keberadaan tanaman yang berasal dari benua Amerika—yang baru dikenal di Eropa setelah abad ke-15—menjadi indikasi kuat bahwa sebagian DNA merupakan hasil kontaminasi yang relatif baru.
Meski demikian, penelitian ini tidak bertujuan menentukan keaslian kain sebagai relik abad pertama. Metode metagenomik yang digunakan tidak dapat memastikan usia kain maupun mengidentifikasi jejak biologis asli secara definitif.
Perdebatan mengenai keaslian Kain Kafan Turin sendiri telah berlangsung lama. Uji radiokarbon pada 1988 menyimpulkan kain tersebut berasal dari periode 1260–1390 M, sehingga banyak ilmuwan menganggapnya sebagai artefak abad pertengahan.
Di sisi lain, sejumlah penelitian lain mencoba menunjukkan kemungkinan usia yang lebih tua, sehingga kontroversi ilmiah dan teologis terkait kain ini masih terus berlanjut.
Studi terbaru ini justru memperkuat pandangan bahwa kain tersebut telah mengalami kontak intens dengan manusia, mikroorganisme, serta berbagai lingkungan geografis, sehingga menyulitkan upaya untuk melacak asal-usul biologis awalnya secara pasti. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.