"Kekerasan terhadap umat Kristen di Nigeria dan Suriah meningkat pada 2026. Puluhan tewas dalam serangan Paskah di Nigeria, sementara konflik berkepanjangan memperburuk kondisi minoritas di Suriah menurut laporan Open Doors dan USCIRF"
DC News — Kekerasan terhadap komunitas Kristen di Nigeria dan Suriah dilaporkan meningkat dalam beberapa waktu terakhir, terutama pada periode Paskah 2026. Sejumlah laporan dari organisasi internasional dan pemantau kebebasan beragama menunjukkan adanya eskalasi serangan yang menargetkan warga sipil, sekaligus memicu kekhawatiran global atas perlindungan kelompok minoritas.
Di Nigeria, serangkaian serangan terjadi sepanjang Pekan Suci. Insiden paling mematikan dilaporkan terjadi pada Minggu Palma, 29 Maret 2026, di kawasan Angwan Rukuba, Jos, Negara Bagian Plateau. Sedikitnya 27 orang tewas ketika sekelompok pria bersenjata menyerang warga yang baru pulang dari kegiatan ibadah.
Serangan berlanjut hingga akhir pekan Paskah di sejumlah wilayah lain, termasuk Benue, Kaduna, dan Nasarawa. Laporan berbagai lembaga kemanusiaan menyebut total korban tewas selama periode tersebut melampaui 60 orang. Sejumlah saksi mata mengaitkan serangan dengan kelompok bersenjata yang diduga berasal dari milisi Fulani, meski motifnya masih menjadi perdebatan antara faktor etnis, konflik lahan, dan ekstremisme agama.
Organisasi Voice of the Martyrs melalui Wakil Presidennya, Todd Nettleton, menilai bahwa pola serangan menunjukkan adanya indikasi penargetan berbasis identitas agama. Namun, sejumlah analis internasional juga menekankan kompleksitas konflik di Nigeria yang melibatkan dimensi sosial-ekonomi, perubahan iklim, dan perebutan sumber daya.
Data dari Open Doors World Watch List 2026 memperkuat kekhawatiran tersebut. Dalam laporan periode Oktober 2024 hingga September 2025, tercatat 4.849 umat Kristen terbunuh secara global, dengan sekitar 72 persen—atau 3.490 kasus—terjadi di Nigeria. Negara ini tetap menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kekerasan tertinggi terhadap komunitas Kristen, dengan aktor yang beragam, termasuk Boko Haram dan Islamic State West Africa Province (ISWAP).
Sementara itu, situasi di Suriah juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan pasca perubahan politik besar pada akhir 2024. Konflik berkepanjangan telah menyebabkan penurunan drastis populasi Kristen, dari sekitar 2,5 juta sebelum perang menjadi sekitar 300.000 jiwa saat ini, menurut berbagai estimasi lembaga internasional.
Salah satu insiden paling menonjol terjadi pada Juni 2025, ketika bom bunuh diri mengguncang Gereja Mar Elias di Damaskus dan menewaskan lebih dari 20 orang serta melukai puluhan lainnya. Serangan tersebut diklaim oleh kelompok yang berafiliasi dengan ISIS.
Meski pemerintah transisi Suriah menyatakan komitmen untuk melindungi kelompok minoritas, laporan dari organisasi independen seperti Open Doors dan USCIRF mencatat masih adanya tindakan intimidasi, vandalisme terhadap simbol keagamaan, serta serangan terhadap tempat ibadah.
United States Commission on International Religious Freedom (USCIRF) dalam beberapa laporannya menyebut kondisi di Nigeria sebagai krisis serius kebebasan beragama yang membutuhkan perhatian internasional. Lembaga tersebut juga menyoroti perlunya langkah konkret dari pemerintah setempat untuk melindungi warga sipil.
Di tengah situasi tersebut, berbagai organisasi keagamaan dan kemanusiaan menyerukan solidaritas global, termasuk melalui doa dan advokasi. Seruan ini tidak hanya datang dari kelompok Kristen, tetapi juga dari jaringan lintas iman yang menekankan pentingnya perlindungan hak asasi manusia tanpa diskriminasi. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.