"Kekristenan di Inggris berkembang pesat di komunitas imigran dan etnis minoritas, tetapi ancaman nasionalisme Kristen gaya AS mulai muncul di politik sayap kanan. Analisis mendalam dari pakar Durham University beserta data sensus terkini"
LONDON, DC News — Di tengah terus menurunnya jumlah warga yang mengidentifikasi diri sebagai Kristen di Inggris dan Wales, dinamika berbeda justru terlihat di kalangan komunitas imigran dan etnis minoritas. Kehidupan gereja di kelompok ini menunjukkan pertumbuhan yang relatif kuat, sementara di saat bersamaan muncul kekhawatiran atas menguatnya retorika nasionalisme Kristen di lingkaran politik kanan Inggris.
Artikel yang mengutip pandangan Profesor Mathew Guest dari Durham University menyebutkan, penurunan identitas Kristen di Inggris secara umum masih menjadi tren dominan. Data Sensus 2021 dari Office for National Statistics mencatat, hanya 46,2 persen penduduk Inggris dan Wales yang menyatakan diri sebagai Kristen. Angka itu turun dari 59,3 persen pada 2011 dan 71,7 persen pada 2001. Kehadiran di gereja pada hari Minggu juga merosot dalam beberapa dekade terakhir.
Survei British Social Attitudes 2025 bahkan menunjukkan identitas Kristen bertahan di kisaran 40 persen, tanpa tanda kebangkitan berarti di kelompok usia muda. Sejumlah faktor disebut berkontribusi terhadap penurunan itu, mulai dari meningkatnya skeptisisme terhadap doktrin keagamaan tradisional, makin menguatnya pluralisme budaya, hingga berkurangnya kepercayaan publik akibat skandal di institusi gereja.
Namun, gambaran tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan kemunduran. Vitalitas Kristen justru tampak di gereja-gereja yang berkembang di lingkungan imigran. Gereja Pentakosta kulit hitam, misalnya, dinilai mampu bertahan bahkan berkembang di sejumlah kota besar seperti London dan Birmingham. Sejumlah gereja memiliki jemaat dalam jumlah besar, sumber daya finansial memadai, dan pengaruh sosial yang nyata di komunitasnya.
Salah satu contoh yang disorot ialah Kingsway International Christian Centre (KICC), yang didirikan pendeta asal Nigeria, Matthew Ashimolowo. Gereja ini disebut memiliki lebih dari 12.000 jemaat mingguan di Prayer City, Kent, dan kerap disebut sebagai salah satu gereja yang paling berkembang di Eropa Barat. Kemunculan gereja semacam itu berkaitan dengan sejarah migrasi Afro-Karibia pada dekade 1960-an dan 1970-an, ketika diskriminasi rasial di gereja tradisional Inggris mendorong terbentuknya komunitas ibadah sendiri.
Pertumbuhan juga terlihat di gereja-gereja yang menarik jemaat keturunan Asia, termasuk mahasiswa internasional di berbagai kampus Inggris. Selain itu, imigran dari Eropa Timur disebut ikut memberi dorongan baru bagi paroki-paroki Katolik Roma. Fenomena ini menjadi kontras dengan Gereja Inggris (Church of England) yang kini masih berjuang mempertahankan jumlah anggota dan kehadiran jemaat.
Di sisi lain, simbol-simbol Kristen kini semakin sering dipakai dalam wacana politik kanan. Pemimpin Reform UK Nigel Farage, misalnya, kerap mengaitkan identitas Inggris dengan prinsip-prinsip Yudeo-Kristen. Danny Kruger, mantan anggota parlemen Partai Konservatif yang kemudian bergabung dengan Reform, juga menyerukan pemulihan “politik Kristen” untuk melawan apa yang ia sebut sebagai “wokeisme”.
Retorika serupa juga muncul dari aktivis kanan Tommy Robinson. Dalam aksi “Unite the Kingdom” di London pada September 2025, para peserta dilaporkan membawa salib kayu dan meneriakkan slogan “Christ is King”. Narasi yang menggabungkan simbol agama dengan identitas nasional ini dinilai mengingatkan pada gejala nasionalisme Kristen di Amerika Serikat, yakni perpaduan antara iman Kristen, nasionalisme ekstrem, dan sikap anti-imigrasi maupun anti-Islam.
Meski demikian, fenomena itu disebut masih relatif baru dan belum menjadi arus utama di Inggris. Sejumlah pemimpin gereja, termasuk uskup-uskup Gereja Inggris, telah menolak upaya menjadikan agama sebagai alat politik identitas. Mereka menekankan pentingnya nilai keramahan, belas kasih, dan keterbukaan terhadap pendatang.
Perkembangan ini menunjukkan wajah ganda kekristenan di Inggris saat ini. Di satu sisi, komunitas imigran membawa energi baru bagi kehidupan gereja. Di sisi lain, meningkatnya penggunaan simbol-simbol Kristen dalam politik kanan memunculkan kekhawatiran akan politisasi agama untuk kepentingan eksklusivisme identitas.
Kalangan akademisi mengingatkan, masa depan kekristenan di Inggris mungkin tidak lagi bertumpu pada gereja tradisional semata, melainkan juga pada komunitas-komunitas baru yang lahir dari pengalaman migrasi. Namun, daya hidup itu dinilai hanya akan memberi kontribusi positif bila tidak dibelokkan menjadi alat pembelahan sosial dan politik. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.