"Survei Lifeway Research menunjukkan pendeta muda, terpelajar, dan urban di AS paling aktif menggunakan AI. Meski tren meningkat, kekhawatiran etika, bias, dan dampaknya terhadap iman tetap tinggi"
DC NEWS — Pendeta Protestan di Amerika Serikat yang berusia lebih muda, berpendidikan tinggi, dan melayani di wilayah perkotaan tercatat paling aktif mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam pelayanan gereja. Meski demikian, pemanfaatannya masih terbatas dan dibayangi beragam kekhawatiran, mulai dari akurasi hingga implikasi teologis.
Temuan ini terungkap dalam survei Lifeway Research yang dirilis melalui Christianity Today pada 21 April 2026. Hasil survei menunjukkan hanya 10 persen pendeta yang menggunakan AI secara rutin. Sebanyak 32 persen lainnya masih dalam tahap mencoba, sementara 18 persen memilih menunggu perkembangan, 18 persen sengaja menghindari, dan 20 persen tidak mempertimbangkan penggunaan AI sama sekali.
Direktur Eksekutif Lifeway Research Scott McConnell menyatakan, penggunaan AI sebenarnya bisa lebih luas dari yang terlihat. “AI sudah tertanam dalam banyak alat yang kita pakai sehari-hari, sehingga sebagian pendeta mungkin menggunakannya tanpa menyadari,” ujarnya.
Secara demografis, tingkat adopsi lebih tinggi pada pendeta berusia 18–44 tahun, dengan 40 persen di antaranya bereksperimen menggunakan AI. Pada kelompok usia 45–54 tahun, angkanya mencapai 37 persen. Dari sisi wilayah, pendeta di gereja perkotaan lebih aktif—11 persen menjadi pengguna rutin—dibandingkan pendeta di pedesaan yang hanya 5 persen.
Faktor pendidikan juga berpengaruh. Pendeta dengan gelar master atau doktor menunjukkan tingkat penggunaan rutin lebih tinggi, yakni 10–14 persen, dibandingkan mereka yang tidak memiliki gelar sarjana (5 persen). Selain itu, gereja dengan jumlah jemaat lebih dari 250 orang cenderung lebih terbuka terhadap eksperimen teknologi ini.
Dari sisi denominasi, kelompok holiness tercatat paling terbuka terhadap AI, dengan 43 persen bereksperimen dan 18 persen menjadi pengguna rutin. Sebaliknya, pendeta Lutheran dan Baptis tergolong paling skeptis.
Namun, keterbukaan ini tidak lepas dari kekhawatiran. Sebanyak 84 persen responden menilai konten AI perlu selalu diperiksa ulang karena berpotensi mengandung kesalahan. Sebanyak 81 persen meragukan sumber informasi yang digunakan AI, dan 76 persen mencemaskan bias dalam sistemnya. Kekhawatiran lain mencakup kurangnya transparansi (62 persen), risiko plagiarisme (59 persen), hingga pandangan teologis bahwa AI bukan entitas pribadi yang layak menyampaikan Firman Tuhan (55 persen).
Di sisi jemaat, respons juga terbelah. Sebanyak 44 persen tidak keberatan jika AI digunakan dalam persiapan khotbah, sementara 43 persen menolak. Pola serupa terlihat dalam sikap terhadap khotbah yang membahas penerapan prinsip Alkitab terhadap AI. Meski demikian, mayoritas jemaat (61 persen) menyatakan khawatir terhadap dampak AI terhadap kekristenan.
Temuan Lifeway ini sejalan dengan tren yang lebih luas. Laporan State of Church Tech 2026 oleh Barna Group dan Pushpay mencatat sekitar 60 persen pemimpin gereja menggunakan AI secara pribadi setidaknya beberapa kali dalam sebulan. Namun, hanya sekitar 5 persen gereja yang memiliki kebijakan resmi terkait penggunaannya.
Survei tersebut juga menunjukkan 65 persen pemimpin gereja khawatir AI dapat menggantikan peran bimbingan rohani, sementara 70 persen mencemaskan penurunan kepercayaan jemaat. Sementara itu, survei Exponential AI NEXT pada akhir 2025 menemukan sekitar dua pertiga pendeta telah menggunakan AI—terutama platform seperti ChatGPT—untuk riset, persiapan khotbah, dan komunikasi gereja.
Di ranah industri teknologi, keterlibatan pemimpin agama juga mulai meningkat. Perusahaan AI Anthropic, pengembang Claude, pada awal April 2026 mengundang sekitar 15 pemimpin Kristen lintas denominasi, akademisi, dan pelaku bisnis untuk membahas aspek etika dan moral AI. Diskusi mencakup respons AI terhadap isu sensitif seperti duka cita, percobaan bunuh diri, hingga pertanyaan filosofis mengenai status AI dalam perspektif iman.
Meski teknologi terus berkembang, sejumlah pemimpin gereja menegaskan pentingnya kehati-hatian. AI dinilai dapat membantu efisiensi dan pengolahan informasi, tetapi tidak boleh menggantikan praktik spiritual inti seperti doa, pendalaman Alkitab, dan relasi personal dengan jemaat. AI tetap diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran ilahi dalam kehidupan beriman. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.