"Pendeta Ruslan Utyuzh tewas dan belasan jemaat terluka saat serangan Rusia menghancurkan Gereja Baptis Rumah Doa di Zaporizhzhia pada malam Paskah 16 April 2026. Lebih dari 700 gereja rusak sejak invasi Rusia; baca detail dan konteks lengkapnya."
Sebuah gereja Baptis di kota Zaporizhzhia, Ukraina tenggara, hancur lebur akibat serangan udara Rusia pada Rabu malam, 16 April 2026. Pendeta Ruslan Utyuzh tewas dalam insiden tersebut, sementara tujuh hingga delapan jemaat lainnya mengalami luka serius. Serangan terjadi saat jemaat sedang menggelar kebaktian doa malam untuk merayakan Paskah, yang diobservasi banyak gereja Ukraina baik menurut kalender Barat maupun Timur.
Menurut laporan mantan anggota Parlemen Ukraina Pavel Unguryan, yang dikutip Baptist Standard dan Christian Post, Gereja Baptis Rumah Doa atau disebut juga House of the Gospel Church sedang dipenuhi pemimpin gereja dan jemaat saat bom menghantam. “Ini bukan sekadar bangunan yang hancur. Ini serangan langsung terhadap umat beriman yang sedang beribadah secara damai,” ujar Unguryan. Ia menambahkan bahwa gereja tersebut telah menjadi rumah spiritual bagi lebih dari 300 orang dan dibangun selama bertahun-tahun dengan pengorbanan finansial serta tenaga jemaat sendiri. Saat serangan terjadi, tim penyelamat masih menyisir puing-puing, sehingga jumlah korban diperkirakan bisa bertambah.
Kedutaan Besar Ukraina di Amerika Serikat menyatakan serangan tersebut sebagai “serangan disengaja terhadap orang-orang beriman yang berkumpul untuk berdoa”. Gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat bantuan kemanusiaan yang memberikan makanan, tempat tinggal, dan harapan bagi warga sipil di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada Februari 2022.
Pendeta Utyuzh meninggalkan istri dan dua orang anak. Ia menjadi salah satu korban terbaru dari pola serangan terhadap fasilitas keagamaan di Ukraina. Menurut data yang dikumpulkan Mission Eurasia dan produser dokumenter “A Faith Under Siege”, Colby Barrett, setidaknya 58 pendeta dan imam telah tewas, sementara lebih dari 700 gereja rusak atau hancur total sejak perang dimulai. Barrett menyebut serangan menggunakan bom berpemandu presisi KAB-1500L dan menegaskan bahwa gereja-gereja yang aktif membantu komunitas sering menjadi sasaran karena berfungsi sebagai “garis hidup” iman dan dukungan kemanusiaan.
Ketua Umum dan CEO Baptist World Alliance, Elijah Brown, mengutuk keras serangan tersebut. “Penargetan gereja dan tempat ibadah harus dihentikan segera. Ini pengingat akan kehancuran moral perang ambisi yang menghancurkan nyawa, meski tidak mampu memadamkan iman,” katanya.
Serangan di Zaporizhzhia merupakan bagian dari gelombang serangan besar-besaran Rusia yang dilaporkan sebagai yang paling mematikan sepanjang tahun ini, dengan ratusan drone dan rudal yang meluncur ke berbagai wilayah Ukraina, menewaskan sedikitnya 18 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya.
Meski menghadapi ancaman konstan, komunitas Kristen Ukraina tetap menunjukkan ketahanan. Barrett mengisahkan serangan drone Shahed yang nyaris menghantam sebuah gereja raksasa di Kyiv September lalu, yang dihadiri ratusan pendeta. Meski hampir menewaskan puluhan rohaniwan, kebaktian tetap berlangsung keesokan harinya dan 200 orang maju untuk dibaptis. []
Editor: OYR
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.