"Klaim penemuan Bahtera Nuh di Gunung Ararat, Turki, menuai kritik. Akademisi dan geolog menilai temuan tersebut belum memiliki bukti ilmiah yang kredibel"
Toronto, DC News — Klaim terbaru mengenai penemuan sisa Bahtera Nuh di wilayah Gunung Ararat, Turki, kembali memicu perdebatan di kalangan peneliti dan akademisi. Temuan yang diumumkan tim Noah’s Ark Scans dinilai belum memiliki dasar ilmiah yang kuat, meski diklaim menunjukkan indikasi struktur buatan manusia.
Pendiri Noah’s Ark Scans, Andrew Jones, menyebut hasil pemindaian menggunakan ground-penetrating radar (GPR) di situs Durupınar—sekitar 30 kilometer dari puncak Gunung Ararat—menunjukkan adanya pola yang menyerupai terowongan, ruang, serta sudut-sudut geometris. Dalam wawancara dengan media internasional pada April 2026, ia menyatakan struktur tersebut berpotensi sebagai sisa “kapal besar yang telah membusuk dan tertimbun tanah”.
Namun, klaim tersebut langsung menuai respons kritis. Apologist Kristen sekaligus peneliti teologi Perjanjian Baru di Wycliffe College, University of Toronto, Wesley Huff, menilai temuan itu tidak dapat dikategorikan sebagai bukti arkeologis yang sahih.
“Saya meyakini keberadaan Nuh dan kisah bahtera dalam tradisi iman. Tetapi formasi di Anatolia itu hampir pasti bukan sisa bahtera,” ujar Huff melalui pernyataan publiknya.
Huff menyoroti sejumlah kelemahan dalam klaim tersebut, mulai dari komposisi tim peneliti yang disebutnya tidak didominasi arkeolog profesional, hingga keterbatasan teknologi GPR yang tidak dapat secara definitif mengidentifikasi struktur kayu purba tanpa ekskavasi langsung. Ia juga menekankan bahwa interpretasi visual terhadap bentuk menyerupai kapal tidak cukup untuk membuktikan asal-usul buatan manusia.
Secara historis, Huff menambahkan, istilah “Ararat” dalam Kitab Kejadian (8:4) merujuk pada kawasan luas Urartu kuno, bukan satu gunung spesifik seperti yang dikenal saat ini. Penamaan Gunung Ararat sendiri baru muncul dalam sumber-sumber abad pertengahan.
Kritik serupa datang dari komunitas ilmiah. Sejumlah studi geologi sebelumnya menyimpulkan bahwa situs Durupınar merupakan formasi alami berupa lipatan batuan (syncline) dari material sedimen, yang terbentuk melalui proses geologis selama ribuan tahun. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal geologi internasional sejak 1980-an juga tidak menemukan indikasi aktivitas manusia pada struktur tersebut.
Menariknya, organisasi yang mendukung interpretasi literal kisah Banjir Nuh seperti Answers in Genesis dan Creation Ministries International turut menolak klaim situs Durupınar sebagai Bahtera Nuh. Mereka menilai tidak adanya bukti material, seperti sisa kayu terawetkan atau artefak pendukung, menjadi alasan utama penolakan.
Menanggapi kritik tersebut, tim Noah’s Ark Scans menyatakan bahwa penelitian mereka masih berada pada tahap awal dan tidak berkaitan dengan klaim-klaim kontroversial sebelumnya, termasuk yang pernah diajukan oleh penjelajah Ron Wyatt. Mereka menegaskan belum menyimpulkan secara final, tetapi menyebut adanya “indikasi pola terstruktur” yang layak diteliti lebih lanjut.
Hingga kini, belum ada publikasi ilmiah yang melalui proses peer-review yang menguatkan klaim keberadaan Bahtera Nuh secara fisik di lokasi mana pun. Pencarian yang telah berlangsung lebih dari satu abad di kawasan Ararat dan sekitarnya kerap menghasilkan klaim serupa, namun sebagian besar berakhir tanpa verifikasi ilmiah.
Perdebatan ini kembali menegaskan pentingnya pemisahan antara keyakinan religius dan metode ilmiah dalam menilai bukti sejarah. Para peneliti menekankan bahwa setiap klaim arkeologis membutuhkan verifikasi ketat melalui ekskavasi, analisis material, serta publikasi akademik yang dapat diuji ulang oleh komunitas ilmiah global. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.