"Trump menyebut pelaku penembakan di WHCA Dinner didorong kebencian anti-Kristen. Insiden ini menambah kekhawatiran soal meningkatnya kekerasan politik di AS"
Washington, DC News — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pelaku upaya penembakan dalam acara tahunan White House Correspondents’ Association (WHCA) Dinner didorong oleh kebencian berbasis agama, khususnya sentimen anti-Kristen. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Fox News, Minggu (26/4/2026).
Trump merujuk pada manifesto yang diduga ditulis oleh tersangka, yang menurutnya mencerminkan kebencian mendalam yang telah berkembang dalam waktu lama. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bagian dari ekstremisme yang berbahaya. “Ini sangat anti-Kristen. Kita berhadapan dengan individu yang sakit dan berbahaya,” ujar Trump, seperti dikutip Anadolu Agency.
Insiden terjadi sekitar pukul 20.34 waktu setempat di Hotel Washington Hilton, lokasi penyelenggaraan WHCA Dinner—acara tahunan bergengsi yang mempertemukan pejabat pemerintah, jurnalis, dan tokoh publik. Acara tersebut dihadiri Presiden Trump, Ibu Negara Melania Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta ratusan undangan lainnya.
Tersangka, Cole Tomas Allen (31), warga Torrance, California, dilaporkan mencoba menerobos pengamanan dengan membawa sejumlah senjata, termasuk shotgun Mossberg Maverick 88 kaliber 12 dan pistol semi-otomatis Armscor .38. Ia sempat melepaskan tembakan sebelum akhirnya dilumpuhkan dan ditangkap oleh petugas Secret Service.
Seorang aparat penegak hukum dilaporkan mengalami luka akibat tembakan, namun selamat berkat perlindungan rompi anti peluru. Sementara itu, Allen mengalami cedera pada lutut dan kini dirawat di rumah sakit.
Berdasarkan dokumen yang ditemukan di kamar hotel serta pesan yang dikirimkan kepada keluarganya sebelum kejadian, tersangka diduga memiliki niat menargetkan pejabat pemerintahan. Aparat juga menelusuri aktivitas media sosial tersangka yang mengandung retorika anti-pemerintah dan anti-agama tertentu.
Menurut sejumlah laporan media AS seperti The Washington Post dan CNN, aparat penegak hukum masih menyelidiki secara mendalam latar belakang dan motif pelaku, termasuk kemungkinan keterkaitan dengan ekstremisme domestik. Hingga kini, otoritas belum menetapkan motif resmi secara definitif.
Keluarga tersangka sebelumnya disebut telah menyampaikan kekhawatiran terkait kondisi mental Allen kepada pihak berwenang. Namun, belum jelas sejauh mana laporan tersebut ditindaklanjuti.
Trump dalam pernyataannya juga memuji respons cepat Secret Service yang dinilai berhasil mencegah korban lebih besar. Ia mengungkapkan rencana untuk meningkatkan keamanan di kompleks Gedung Putih, termasuk pembangunan fasilitas baru dengan perlindungan anti peluru dan sistem pertahanan terhadap drone.
Melalui platform Truth Social, Trump memastikan bahwa seluruh pejabat utama dalam kondisi aman. Ia juga menyatakan bahwa acara WHCA Dinner akan dijadwal ulang dalam waktu 30 hari.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche dan Kepala Kepolisian Washington DC sementara Jeffery Carroll menyampaikan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Allen dijadwalkan menjalani sidang perdana di pengadilan federal pada Senin (28/4/2026).
Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan bermotif politik di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data dari lembaga riset seperti ACLED (Armed Conflict Location & Event Data Project), tren kekerasan politik di AS menunjukkan peningkatan sejak 2020, termasuk ancaman terhadap pejabat publik dan institusi demokrasi. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.