"Kursus “Wife School” di AS ajarkan istri tunduk demi harmoni rumah tangga. Viral, murah, tapi dikritik karena berpotensi memperkuat relasi tidak setara"
Sebuah kursus daring di Amerika Serikat bernama “Wife School” (Sekolah Istri) menjadi sorotan setelah menawarkan pelatihan bagi perempuan untuk “menyerahkan diri secara aktif” kepada suami demi menciptakan rumah tangga harmonis.
Program ini dipopulerkan oleh penulis Kristen konservatif Tilly Dillehay, yang melalui kelas berbayar sekitar 17 dolar AS (sekitar Rp200.000) mengajarkan konsep “ketundukan yang proaktif”. Dalam materi tersebut, istri didorong untuk mendukung kepemimpinan suami secara penuh, termasuk menahan kritik dan meminta persetujuan dalam berbagai keputusan sehari-hari.
Salah satu metafora yang digunakan adalah sepeda tandem: suami mengendalikan arah di depan, sementara istri mengayuh dari belakang tanpa mengganggu kendali.
Dijual sebagai solusi “harmoni”, dipertanyakan sebagai kontrol
Kursus ini dipasarkan sebagai solusi praktis bagi perempuan Kristen yang merasa gagal membangun pernikahan stabil di tengah tekanan modern. Namun, kritik menyebut pendekatan tersebut justru berpotensi memperkuat relasi yang timpang.
Profesor Mariah Wellman dari Michigan State University menilai program seperti ini “menjual stabilitas” dengan memanfaatkan rasa tidak aman perempuan dalam komunitas religius.
Sejumlah pengamat juga menyoroti bahwa tanggung jawab keharmonisan rumah tangga dalam materi kursus lebih banyak dibebankan kepada istri, sementara perilaku suami jarang menjadi fokus evaluasi.
Didukung tokoh konservatif, berakar pada tafsir Alkitab tertentu
Ajaran dalam Wife School berakar pada paham komplementarianisme, yang menempatkan suami sebagai pemimpin rumah tangga berdasarkan tafsir ayat seperti Efesus 5:23.
Program ini mendapat dukungan dari figur publik seperti Jessa Seewald, anggota keluarga Duggar yang dikenal luas dalam komunitas Kristen konservatif di AS.
Fenomena ini juga terkait dengan jaringan penerbit dan tokoh Kristen nasionalis yang lebih luas, yang mempromosikan nilai keluarga tradisional di ruang digital.
Muncul di tengah tren “tradwife” dan pergeseran generasi muda
Kemunculan Wife School tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari tren “tradwife” di media sosial—gaya hidup yang mengidealkan perempuan sebagai istri dan ibu rumah tangga yang berfokus pada keluarga dan iman.
Namun, di sisi lain, berbagai studi menunjukkan perempuan muda di AS semakin kritis terhadap institusi agama yang dianggap mempertahankan peran gender kaku.
Kontras ini menciptakan pasar tersendiri: sebagian perempuan mencari stabilitas melalui nilai tradisional, sementara yang lain justru menjauh.
Risiko nyata: ketika “ketaatan” bertemu kekerasan
Para ahli memperingatkan bahwa ajaran penyerahan diri tanpa batas bisa berbahaya jika diterapkan dalam relasi yang tidak sehat.
Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan sekitar satu dari empat perempuan di Amerika Serikat pernah mengalami kekerasan fisik oleh pasangan intim sepanjang hidupnya.
Kritikus menilai narasi “istri harus tunduk” berpotensi membuat perempuan mengabaikan tanda bahaya dalam hubungan, meskipun Dillehay sendiri menyatakan bahwa kekerasan tetap tidak dapat dibenarkan.
Antara iman dan kesetaraan
Perdebatan soal Wife School mencerminkan konflik yang lebih luas: apakah nilai pernikahan tradisional dapat dipertahankan tanpa mengorbankan kesetaraan gender?
Pendukung melihatnya sebagai jalan menuju keluarga religius yang harmonis. Namun, bagi kritikus, fenomena ini adalah bentuk rebranding ajaran lama yang berisiko mempertahankan ketimpangan relasi.
Di Indonesia, diskursus serupa juga mulai muncul, meski banyak gereja cenderung menekankan kemitraan suami-istri yang saling menghormati sesuai konteks lokal. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.