"Menjawab krisis identitas dan mental Gen Z di era digital, Pdt. Karen Puimera dari WCC menegaskan bahwa gereja harus menjadi tempat aman yang merangkul anak muda sebagai pemilik iman hari ini, bukan sekadar ‘museum dingin’ atau ‘sipir penjara’."
POSO, DC News — “Gereja itu seorang ibu, bukan sipir penjara. Gereja adalah rumah yang hangat, bukan museum yang dingin.”
Pernyataan menohok dari Pdt. Herlina Kabaya, Ketua Komisi Remaja Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), mengudara di tengah bentang alam Tentena, Kabupaten Poso. Kalimat itu bukan sekadar retorika pembuka, melainkan tamparan keras bagi dinamika institusi keagamaan di era modern.
Di tengah gempuran algoritma media sosial, krisis identitas, hingga tekanan mental yang melanda Gen Z, sekitar 300 remaja dan pendamping berkumpul dalam Kemah Remaja Nasional GKST bertajuk “Gerejaku, Rumahku”.
Hadir sebagai pembicara utama mewakili Dewan Gereja-gereja Sedunia (World Council of Churches / WCC), Pdt. Karen Erina Puimera mengungkapkan betapa krusialnya mendefinisikan ulang arti “rumah” bagi generasi muda saat ini.
Jebakan “Museum Dingin” dan Label “Masa Depan”
Selama ini, anak muda kerap dininabobokan dengan frasa klise: “Kalian adalah masa depan gereja.” Namun, realitas di lapangan kerap berkata lain. Remaja sering kali ditaruh di posisi pendengar pasif, dipaksa menuruti tradisi kaku tanpa diberi ruang untuk bersuara atau melakukan kesalahan.
“Anak muda sering kali punya aspirasi dan pandangan tajam, tetapi ruang untuk mengekspresikannya sangat minim. Para dewasa berbicara, sementara remaja hanya mendengarkan,” tutur salah seorang peserta remaja di Tentena.
Kondisi inilah yang membuat institusi keagamaan berisiko berubah menjadi “museum dingin”—tempat yang hanya memamerkan kejayaan masa lalu tanpa ada kehidupan baru—atau “sipir penjara” yang membelenggu kebebasan berpikir.
Pdt. Karen menegaskan perlunya pergeseran paradigma: anak muda bukanlah aset masa depan semata, melainkan pemegang hak waris dan pelaku iman hari ini. Pelayanan keagamaan harus bergeser dari sekadar melakukan sesuatu untuk remaja, menjadi bergerak bersama mereka.
Ketika Isu Global Berbenturan dengan Realitas Lokal
Meski berjarak ribuan kilometer dari Jenewa, Jenewa tidak lagi terasa jauh bagi remaja di Poso. Ponsel pintar di genggaman menyatukan realitas mereka dengan fenomena global: krisis identitas digital, standar kecantikan semu, tekanan prestasi, hingga isu kesehatan mental.
Di sinilah gerakan ekumenisme (persekutuan lintas tradisi) menemukan bentuk nyatanya. Ekumenisme bukan lagi soal birokrasi antar-pemimpin gereja di ruang rapat ber-AC, melainkan pengalaman nyata anak muda dalam merangkul perbedaan, mendengarkan, serta memperjuangkan keadilan sosial dan martabat manusia bersama-sama.
“Pertanyaan paling mendasar yang dihadapi Gen Z di tengah gempuran algoritma adalah: ‘Siapakah saya ketika semua label di media sosial hilang?’ Di sinilah peran gereja hadir, bukan untuk memberikan label baru, melainkan menciptakan ruang aman agar mereka menemukan jati dirinya yang sejati,” tegas Pdt. Karen.
Rumah yang Memberi Kepakan Sayap
Rumah yang sehat tidak pernah mengurung penghuninya selamanya. Ia memberi rasa aman untuk pulang, tetapi sekaligus memberikan keberanian untuk melangkah keluar menaklukkan dunia.
Melalui ruang yang inklusif, Gen Z terbukti mampu membawa warna baru—mulai dari pemanfaatan teknologi, seni, kepemimpinan, hingga menjadi agen perdamaian di komunitas mereka.
Tantangan terbesar bagi institusi keagamaan hari ini bukan lagi sekadar cara “memaksa” anak muda agar rajin beribadah. Tantangan sesungguhnya adalah membangun sebuah ekosistem yang cukup hangat untuk mereka sebut sebagai “rumah”—rumah yang memanusiakan, mendengarkan, dan mengutus mereka menjadi pembawa perubahan di tengah dunia. []
(Sumber: World Council of Churches / oikoumene.org, GKST, GPIB)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.