"Renungan dari 2 Samuel 5:1–5 (ESV) tentang otoritas ilahi: Tuhan memanggil pemimpin untuk menggembalakan, bukan menguasai—melindungi yang lemah, menuntun yang bingung, memulihkan yang terluka, dan menyatukan yang tercerai-berai. Evaluasi kepemimpinan kita: membuat orang aman atau tertekan, mengejar menang debat atau mempersatukan hati, mengikuti kehendak Tuhan atau ego"
“Engkaulah yang akan menggembalakan umat-Ku Israel dan engkaulah yang akan menjadi pemimpin atas Israel” (2Samuel 5:2b—TB2)
Ada banyak orang ingin “punya kuasa”: ingin didengar, ingin dituruti, ingin dianggap penting. Tapi ketika suku-suku Israel datang kepada Daud dan mengurapinya menjadi raja, alasan terkuatnya bukan karena Daud paling kuat—melainkan karena mereka percaya ada panggilan dari Tuhan atas Daud.
Menariknya, Tuhan tidak berkata, “Engkau akan memerintah umat-Ku.” Melainkan, Ia berkata, “Engkau akan menggembalakan umat-Ku.” Artinya, ukuran pemimpin yang benar bukan seberapa banyak orang takut atau tunduk, tetapi seberapa banyak orang terpelihara: yang lemah dilindungi, yang bingung dituntun, yang tercerai-berai disatukan, dan yang terluka dipulihkan.
Renungan ini dekat sekali dengan hidup kita. Di rumah, di kerja, di komunitas—kadang kita diberi peran memimpin. Tapi Tuhan mengingatkan: otoritas itu bukan hak untuk menguasai, melainkan tanggung jawab untuk merawat.
Hari ini, mari bertanya jujur: Saat aku “memimpin,” apakah orang merasa aman atau tertekan?
Apakah aku lebih sibuk menang debat, atau lebih sibuk menyatukan hati?
Apakah keputusan-keputusanku mencerminkan kehendak Tuhan, atau hanya egoku?
Karena rumah kita pun adalah “kerajaan kecil.” Dan di kerajaan itu, Kristuslah Rajanya. Kita ini hanya “gembala” yang dititipi. Amin!
KUASA DARI TUHAN BUKANLAH KUASA UNTUK MENAKLUKKAN
TAPI KUASA UNTUK MENGGEMBALAKAN
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.