"Film dokumenter Pesta Babi memicu kontroversi nasional dan internasional soal proyek food estate di Papua. Deforestasi massal, perampasan tanah adat, dan dilema moral Gereja Katolik. Simak fakta terbaru yang mengguncang Indonesia"
Jakarta – Sebuah film dokumenter yang baru beredar sejak April 2026 berhasil mengguncang narasi pembangunan di Papua. Pesta Babi: Colonialism in Our Time bukan sekadar rekaman biasa. Ia membuka luka lama: bagaimana proyek strategis nasional pangan dan energi di Merauke dan wilayah selatan Papua justru mengorbankan hutan primer, tanah adat, serta martabat masyarakat asli.
Dibuat oleh jurnalis investigasi Dandhy Dwi Laksono dan antropolog Cypri Jehan Paju Dale, film ini mendokumentasikan buldoser negara dan korporasi yang merobohkan jutaan hektare hutan. Masyarakat adat kehilangan sumber pangan, sungai tercemar, dan ritual budaya seperti pesta babi—simbol kebersamaan—kini terbalik menjadi metafor “pesta” bagi elite yang meraup keuntungan. Yang lebih mengguncang: militer semakin masif hadir, mengawal proyek sekaligus membatasi suara protes.
Bukan hanya pemerintah yang gelisah. Pemutaran film di berbagai kota kerap diintervensi aparat dengan alasan “rawan gangguan kamtibmas”. Di Yogyakarta, bahkan pusat pastoral Katolik sempat menolak screening karena dianggap “terlalu politik”. Ironis, sebab resistensi terkuat justru datang dari umat Katolik Papua sendiri melalui Gerakan Salib Merah: salib-sang merah raksasa didirikan di lahan yang hendak dibabat, simbol duka dan perlawanan tanpa kekerasan.
Uskup Agung Merauke Petrus Canisius Mandagi yang mendukung proyek demi “pembangunan kemanusiaan” kini mendapat sorotan tajam dari umatnya sendiri. Kritik mereka berbasis ajaran sosial Gereja, khususnya Laudato Si’, yang menegaskan bahwa perusakan alam tak terpisahkan dari ketidakadilan terhadap yang miskin. Film ini memaksa Gereja menghadapi pertanyaan mendasar: bisakah diam ketika ciptaan Tuhan dan martabat umat digerus atas nama pembangunan?
Kontroversi justru menjadi boomerang. Ribuan permintaan screening masuk, diskusi menyebar dari kampus hingga kampung. Di luar negeri, film ini membuka mata dunia tentang “ekosida” di Papua yang selama ini tersembunyi di balik narasi integrasi dan food security.
Di tengah klaim pemerintah bahwa proyek ini demi ketahanan pangan nasional, Pesta Babi menyodorkan pertanyaan keras: pembangunan untuk siapa? Ketika hutan habis dan masyarakat adat kehilangan segalanya, apakah itu masih disebut kemajuan—orang Papua hanya menjadi “korban pesta” di tanah sendiri?
(Sumber: UCA News, ABC News, RNZ, Human Rights Monitor, Indoleft, HRW – update Mei 2026)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.