"Di balik modernisasi Arab Saudi dan proyek Vision 2030, umat Kristen disebut masih hidup dalam ketakutan. Ibadah dilakukan diam-diam, sementara kebebasan beragama dinilai tetap dibatasi"
RIYADH, DC News — Gemerlap modernisasi Arab Saudi di bawah proyek Vision 2030 ternyata belum sepenuhnya membawa kebebasan bagi semua pemeluk agama. Di balik deretan gedung pencakar langit, konser internasional, dan citra reformasi Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), ribuan umat Kristen disebut masih hidup dalam bayang-bayang ketakutan.
Mereka beribadah secara sembunyi-sembunyi, menyamarkan identitas keagamaan, hingga menggelar misa rahasia di rumah-rumah ekspatriat dan area diplomatik asing.
Kesaksian itu disampaikan seorang pria Lebanon bernama samaran “Nicolas”, yang tumbuh besar di Jeddah, kota yang dikenal paling terbuka di Arab Saudi. Dalam laporan International Christian Concern (ICC) yang dipublikasikan pada 11 Mei 2026, Nicolas menggambarkan bagaimana kehidupan umat Kristen di kerajaan tersebut harus dijalani secara diam-diam.
“Tidak ada gereja sama sekali. Bahkan yang pura-pura pun tidak ada,” kata Nicolas.
Menurut dia, komunitas Kristen di Saudi sebagian besar berasal dari pekerja migran Filipina, Ethiopia, India, dan Lebanon. Mereka hanya dapat berkumpul secara tertutup di rumah kontrakan atau menghadiri ibadah di kompleks diplomatik yang memiliki perlindungan hukum internasional.
Perayaan keagamaan seperti Natal pun disebut hanya bisa dilakukan di lingkungan asing yang tertutup dari masyarakat umum Saudi.
Meski pemerintah Saudi dalam beberapa tahun terakhir mengurangi kewenangan polisi agama atau mutaween, tekanan sosial dan hukum terhadap non-Muslim dinilai masih kuat.
Nicolas mengaku pernah menyaksikan seorang perempuan kehilangan kalung salibnya setelah dirampas aparat agama. Pemeriksaan barang-barang bernuansa Kristen, termasuk Alkitab berbahasa Arab, juga disebut dapat memicu masalah serius di bandara maupun ruang publik.
Bahkan, penampilan pribadi kadang ikut menjadi sasaran. Rambut panjang pada pria Muslim, menurut Nicolas, bisa memicu intimidasi hingga kekerasan fisik karena dianggap tidak sesuai norma konservatif setempat.
Sejak reformasi sosial dimulai pada 2016, pemerintah Saudi memang membatasi tindakan langsung mutaween. Mereka kini lebih banyak bertugas mengawasi dan melaporkan dugaan pelanggaran kepada aparat keamanan.
Namun, berbagai organisasi HAM internasional menilai perubahan itu belum menyentuh akar persoalan kebebasan beragama.
Open Doors dalam World Watch List 2026 kembali menempatkan Arab Saudi sebagai salah satu negara dengan tingkat persekusi tertinggi terhadap umat Kristen di dunia. Organisasi tersebut menyebut konversi dari Islam ke agama lain masih dianggap tindakan berbahaya dan dapat memicu ancaman serius, termasuk kekerasan keluarga dan pengucilan sosial.
Sementara itu, Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF) dalam laporan tahunannya 2026 kembali merekomendasikan Arab Saudi masuk kategori Country of Particular Concern (CPC) karena dianggap melakukan pelanggaran sistematis terhadap kebebasan beragama.
Human Rights Watch (HRW) juga menyoroti bahwa kebebasan berekspresi dan keyakinan di Saudi masih berada di bawah kontrol ketat negara, meski pemerintah gencar mempromosikan citra moderat kepada dunia internasional.
Di tengah reformasi ekonomi besar-besaran dan pembukaan sektor hiburan, hanya Islam yang tetap diperbolehkan tampil secara resmi di ruang publik Saudi. Tidak ada gereja resmi yang diizinkan berdiri di negara tersebut hingga saat ini.
Bagi jutaan pekerja migran asing yang menopang ekonomi Saudi, kondisi itu menjadi dilema tersendiri. Selain menghadapi persoalan ketenagakerjaan, mereka juga harus menjalankan keyakinan secara diam-diam demi menghindari risiko deportasi maupun tekanan sosial.
Nicolas mengatakan sebagian warga Saudi sebenarnya bersikap ramah terhadap orang asing. Namun, pembicaraan soal agama tetap dianggap sensitif.
“Mereka biasanya baik, tetapi iman harus tetap dirahasiakan,” ujarnya.
Situasi paling berisiko dialami warga lokal Saudi yang berpindah keyakinan dari Islam ke agama lain. Mereka disebut harus hidup dalam kerahasiaan total atau melarikan diri ke luar negeri untuk mencari suaka.
Fenomena ini memperlihatkan kontras tajam antara wajah modern Arab Saudi di panggung global dengan realitas kebebasan beragama di dalam negeri. Di balik ambisi menjadi pusat ekonomi dan wisata dunia, sebagian kelompok minoritas masih merasa hidup dalam ketakutan.
(Sumber: ICC/persecution.org, Open Doors WWL 2026, USCIRF Annual Report 2026, Human Rights Watch)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.