"Laporan USCIRF AS mengungkap dugaan diskriminasi sistemik terhadap umat Kristen di Mesir. Fakta ini memicu sorotan global soal kebebasan beragama"
KAIRO — Laporan terbaru dari Komisi Amerika Serikat untuk Kebebasan Beragama Internasional (USCIRF) mengguncang perhatian global. Dalam dokumen tahunannya, lembaga tersebut menyebut umat Kristen dan kelompok minoritas lainnya di Mesir masih menghadapi diskriminasi sistemik.
Laporan yang dirilis April 2026 itu menyoroti bagaimana kebijakan negara dan praktik sosial dinilai terus membatasi kehidupan keagamaan non-Muslim. Meski terdapat sejumlah kemajuan, tekanan terhadap minoritas disebut belum sepenuhnya hilang.
USCIRF bahkan merekomendasikan agar Mesir dimasukkan ke dalam daftar Special Watch List (SWL), sebuah kategori bagi negara yang dianggap melakukan pelanggaran kebebasan beragama secara serius dan berkelanjutan.
Minoritas Besar, Tantangan Nyata
Umat Kristen di Mesir, yang mayoritas berasal dari Gereja Koptik, diperkirakan mencapai sekitar 10 persen populasi atau sekitar 10 juta orang.
Meski menjadi minoritas terbesar di Timur Tengah, mereka dilaporkan menghadapi berbagai hambatan, mulai dari pembatasan pembangunan rumah ibadah hingga tuduhan penistaan agama yang berujung penahanan.
Selain itu, sejumlah laporan internasional juga mencatat adanya diskriminasi administratif, keterwakilan politik yang terbatas, hingga kasus kekerasan sektarian yang berulang.
Antara Kemajuan dan Kritik
Di sisi lain, pemerintah Mesir menegaskan bahwa konstitusi menjamin kebebasan beragama dan kesetaraan bagi seluruh warga negara.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah juga mengklaim telah meningkatkan toleransi, termasuk mempermudah legalisasi gereja dan mengurangi serangan besar terhadap komunitas Kristen.
Namun, menurut USCIRF, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi standar kebebasan beragama internasional.
Sorotan Global
Isu kebebasan beragama di Mesir bukan hal baru. Berbagai organisasi HAM sebelumnya juga menyoroti pola diskriminasi yang disebut telah berlangsung lama, baik melalui hukum, birokrasi, maupun tekanan sosial.
Situasi ini menempatkan Mesir kembali dalam sorotan dunia, terutama di tengah upaya pemerintahnya membangun citra sebagai negara yang menjunjung toleransi. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.