"George Soros melalui Open Society Foundations mengucurkan dana Rp480 miliar untuk memerangi antisemitisme dan Islamofobia di tengah memanasnya dampak perang Israel-Hamas. Langkah ini disebut sebagai upaya besar melawan narasi kebencian global"
NEW YORK, DC News — Miliarder George Soros kembali menjadi sorotan dunia internasional. Melalui Open Society Foundations (OSF) yang kini dipimpin putranya, Alex Soros, organisasi filantropi itu menggelontorkan dana fantastis senilai 30 juta dollar AS atau sekitar Rp480 miliar untuk memerangi antisemitisme dan kebencian anti-Muslim di berbagai negara.
Pengumuman tersebut disampaikan pada Rabu (13/5/2026), di tengah meningkatnya tensi global akibat dampak perang Israel-Hamas yang hingga kini masih menyisakan trauma kemanusiaan dan gelombang polarisasi di berbagai belahan dunia.
Dana jumbo itu akan disalurkan selama tiga tahun ke depan guna memperkuat kerja sama lintas agama, mendukung komunitas rentan, serta membiayai gerakan akar rumput yang fokus melawan ujaran kebencian dan ekstremisme, terutama di media sosial.
Open Society Foundations menyebut lonjakan antisemitisme dan Islamofobia meningkat tajam sejak konflik Gaza pecah pada Oktober 2023. Sejumlah laporan lembaga pemantau internasional menunjukkan serangan verbal maupun fisik terhadap komunitas Yahudi dan Muslim melonjak di Amerika Serikat dan Eropa dalam dua tahun terakhir.
Alex Soros menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar isu politik global, melainkan menyangkut kehidupan nyata jutaan orang.
“Diskriminasi dan kebencian tidak boleh dinormalisasi. Kita harus melawan kebencian terhadap Yahudi maupun Muslim secara bersamaan,” ujar Alex Soros dalam pernyataan resminya.
Pernyataan itu dinilai sarat makna personal. Alex merupakan anak dari George Soros, penyintas Holocaust asal Hungaria yang selama puluhan tahun dikenal aktif mendanai gerakan demokrasi dan hak asasi manusia di dunia. Di sisi lain, Alex juga diketahui menikah dengan seorang Muslim Amerika, sehingga isu intoleransi dinilainya sangat dekat dengan kehidupan pribadinya.
Langkah OSF ini muncul di tengah meningkatnya tekanan politik terhadap keluarga Soros. Nama George Soros selama bertahun-tahun kerap menjadi sasaran teori konspirasi dari kelompok konservatif sayap kanan di Amerika Serikat maupun Eropa. Bahkan, sejumlah narasi antisemit sering kali menjadikan Soros sebagai simbol elite global yang dituduh mengendalikan politik internasional.
Meski begitu, OSF menegaskan pihaknya tidak akan mundur menghadapi tekanan tersebut. Yayasan itu justru ingin memperluas dukungan terhadap organisasi-organisasi lokal yang mempromosikan toleransi dan dialog antaragama.
Sejumlah pengamat menilai langkah ini bisa menjadi salah satu intervensi filantropi terbesar dalam isu hubungan antaragama pasca-konflik Gaza. Apalagi, dunia saat ini dinilai sedang menghadapi gelombang polarisasi baru yang dipicu perang, disinformasi digital, serta menguatnya politik identitas.
Di media sosial, pengumuman tersebut langsung memicu perdebatan panas. Sebagian memuji langkah Soros sebagai bentuk keberanian melawan kebencian global, sementara kelompok lain kembali melontarkan kritik terhadap pengaruh besar OSF dalam politik dan isu sosial internasional.
Namun di tengah kontroversi yang terus mengiringi nama Soros, satu pesan yang ingin ditegaskan OSF tampak jelas: kebencian terhadap agama apa pun dinilai sama-sama berbahaya dan harus dilawan secara koleif.
(Sumber: AP, Washington Post, Open Society Foundations)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.