"Keluarga Kristen di Chhattisgarh, India, diserang brutal dan diancam diusir dari desa usai memeluk agama Kristen. Kasus ini memicu sorotan terhadap UU anti-konversi India yang dinilai memperparah persekusi minoritas"
Raipur, Chhattisgarh — Ketegangan terhadap komunitas Kristen di India kembali memanas. Sebuah keluarga Kristen di Desa Madgaon, Distrik Kondagaon, Negara Bagian Chhattisgarh, menjadi korban pengeroyokan brutal setelah dituduh tidak lagi pantas tinggal di desa karena memeluk agama Kristen.
Insiden itu terjadi pada Jumat pagi, 9 Mei 2026, ketika lima anggota Keluarga Karanga memetik mangga dari lahan warisan milik mereka sendiri. Namun aktivitas tersebut memicu kemarahan sejumlah warga desa.
Dua pria bernama Mahesh dan Birendra Karanga disebut memprovokasi massa dengan tuduhan bahwa keluarga tersebut telah meninggalkan “agama leluhur” dan mengikuti “agama asing”. Situasi dengan cepat berubah menjadi aksi kekerasan.
Korban mengalami luka serius di bagian kepala dan patah tulang pada tangan. Mereka kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Keshkal, Chhattisgarh.
Menurut Progressive Christian Alliance (PCA), serangan itu bukan peristiwa tunggal. Selama berbulan-bulan, keluarga tersebut dikabarkan mengalami intimidasi, penghinaan dalam rapat desa, ancaman pengusiran, hingga ancaman pembunuhan apabila menolak kembali ke agama sebelumnya.
“Situasi semakin buruk sejak aturan anti-konversi diperketat,” kata Pastor Simon Digbal Tandi, koordinator PCA. Ia menyebut hampir setiap hari muncul laporan intimidasi dan kekerasan terhadap umat Kristen di wilayah tersebut.
Pernyataan serupa disampaikan Kamal Kujur dari Rashtriya Christian Morcha yang menilai pola serangan terhadap minoritas Kristen kini berlangsung dengan “keteraturan yang mengkhawatirkan”.
Aktivis HAM di Raipur, Binay Lakra, memperingatkan bahwa situasi dapat semakin tidak terkendali apabila pemerintah India tidak segera bertindak tegas terhadap pelaku kekerasan berbasis agama.
Hingga kini, Polisi Dhanora disebut belum mendaftarkan First Information Report (FIR) resmi meski laporan korban telah diajukan. PCA mendesak aparat memberikan perlindungan terhadap keluarga korban, memastikan akses pengobatan, serta menindak pelaku dan pihak-pihak yang melakukan boikot sosial maupun ekonomi.
Chhattisgarh sendiri kembali menjadi sorotan internasional terkait isu kebebasan beragama. Negara bagian itu memiliki populasi Kristen kurang dari dua persen, tetapi tercatat sebagai salah satu wilayah dengan laporan persekusi tertinggi di India.
Data United Christian Forum menunjukkan sedikitnya 165 kasus kekerasan terhadap umat Kristen terjadi sepanjang 2024. Bentuknya beragam, mulai dari pengusiran keluarga, penolakan pemakaman Kristen, hingga serangan massa oleh kelompok Hindu nasionalis.
Sorotan juga mengarah pada revisi undang-undang anti-konversi di Chhattisgarh yang diperketat pada April 2026. Pemerintah daerah berdalih aturan tersebut dibuat untuk mencegah perpindahan agama secara paksa. Namun kelompok HAM dan organisasi gereja menilai regulasi itu justru digunakan sebagai alat untuk membenarkan intimidasi terhadap minoritas agama.
Sejumlah pengamat menyebut meningkatnya sentimen nasionalisme Hindu di beberapa wilayah India turut memperburuk situasi kebebasan beragama. Organisasi internasional seperti Human Rights Watch dan USCIRF sebelumnya juga pernah menyoroti meningkatnya kekerasan terhadap komunitas minoritas di India dalam beberapa tahun terakhir.
Kasus di Madgaon kini menjadi simbol baru meningkatnya ketakutan komunitas Kristen pedesaan di India tengah — sebuah pesan bahwa perbedaan keyakinan dapat berujung pada pengusiran bahkan kekerasan terbuka.
(Sumber: UCA News, Catholic Connect, United Christian Forum, Progressive Christian Alliance/PCA, Morning Star News, laporan lokal Chhattisgarh 2024–2026)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.