"Kehidupan umat Kristen di Afghanistan semakin terancam di bawah Taliban. Hidup sembunyi-sembunyi, terancam hukuman mati, hingga pengusiran paksa—ini fakta terbaru yang jarang terungkap"
KABUL — Bagi sebagian warga Afghanistan, rumah bukan lagi tempat berlindung. Terutama bagi mereka yang memeluk agama Kristen.
Di bawah kekuasaan Taliban, identitas sebagai Kristen bukan sekadar pilihan iman, melainkan ancaman nyata terhadap nyawa.
Tidak ada gereja. Tidak ada pengakuan resmi. Bahkan, Taliban secara terbuka menyangkal keberadaan umat Kristen di negara itu.
Akibatnya, para penganut Kristen—yang sebagian besar adalah mualaf dari Islam—dipaksa hidup dalam bayang-bayang.
Hidup dalam Ketakutan
Setiap hari adalah permainan bertahan hidup. Sedikit saja kesalahan—sebuah percakapan, pesan, atau aktivitas mencurigakan—dapat berujung pada pengungkapan identitas.
Dalam sistem hukum Taliban, perpindahan agama dianggap sebagai kemurtadan, yang dapat berujung hukuman mati.
Ancaman tidak hanya datang dari pemerintah. Banyak keluarga dan komunitas lokal menganggap konversi sebagai aib yang harus “dibersihkan”, bahkan dengan kekerasan.
Gereja Tanpa Bangunan
Tanpa tempat ibadah resmi, komunitas Kristen bertahan melalui jaringan bawah tanah. Pertemuan dilakukan secara rahasia, berpindah-pindah, dan dalam kelompok kecil.
Namun, bahkan pertemuan kecil ini bisa menjadi risiko besar.
Laporan terbaru menunjukkan adanya serangan terhadap kelompok ibadah rahasia, meski sulit diverifikasi karena ketatnya kontrol informasi oleh Taliban.
Terjepit dari Segala Arah
Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, ruang hidup bagi minoritas agama semakin menyempit.
Organisasi internasional mencatat situasi Afghanistan sebagai salah satu yang paling berbahaya bagi kebebasan beragama di dunia.
Gelombang deportasi pengungsi pada 2025 memperparah kondisi. Banyak warga yang sebelumnya melarikan diri kini dipaksa kembali ke negara yang mengancam keselamatan mereka.
Bagi sebagian orang, satu-satunya pilihan adalah melarikan diri. Namun bagi yang tertinggal, hidup dalam identitas tersembunyi menjadi satu-satunya cara bertahan.
Iman di Tengah Ancaman
Meski hidup dalam ketakutan, sebagian tetap bertahan pada keyakinannya.
“Menjadi orang percaya di Afghanistan seperti berjalan di ujung pisau,” ungkap seorang perempuan dalam laporan lembaga kemanusiaan.
Kisah mereka adalah potret sunyi dari krisis kemanusiaan yang jarang terlihat—tentang iman, ketakutan, dan perjuangan untuk tetap hidup di negeri sendiri. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.