"Pendeta Dia Moodley di Bristol ditangkap kedua kali karena berkhotbah di jalanan tentang perbandingan agama dan ideologi gender. Investigasi polisi berlanjut, memicu isu kebebasan berbicara dan two-tier policing di Inggris"
BRISTOL, DC News – Seorang pendeta Baptis Reformasi di Bristol, Inggris, ditangkap dan diinterogasi polisi setelah berkhotbah di ruang publik. Peristiwa ini memicu perdebatan mengenai batas kebebasan berbicara dan ekspresi keagamaan di negara tersebut.
Pendeta tersebut, Dia Moodley (58), merupakan pemimpin Spirit of Life Reformed Baptist Church di kawasan Lockleaze, Bristol. Ia telah tinggal di kota itu selama hampir tiga dekade dan rutin menyampaikan khotbah di kawasan Broadmead Shopping Centre dalam delapan tahun terakhir.
Dalam khotbahnya, Moodley dikenal menggunakan pendekatan intelektual dengan membandingkan ajaran Kristen dengan agama lain serta menyinggung isu-isu kontemporer, termasuk ideologi gender. Ia menyatakan tidak pernah menargetkan kelompok tertentu dalam penyampaiannya.
Pada 22 November 2025, Moodley ditangkap oleh Kepolisian Avon and Somerset saat sedang berkhotbah. Ia ditahan selama sekitar delapan jam dan disangka melanggar Public Order Act 1986, termasuk dugaan menghasut kebencian berbasis agama. Penangkapan tersebut dipicu laporan sejumlah warga yang keberatan dengan isi ceramahnya, khususnya terkait Islam dan isu gender.
Ini bukan kali pertama Moodley berurusan dengan aparat. Pada Maret 2024, ia juga sempat ditangkap dengan tuduhan serupa, namun perkara tersebut kemudian dihentikan.
Pasca-penangkapan November 2025, Moodley dikenai syarat jaminan yang sempat melarangnya berkhotbah di pusat kota selama periode Natal, meski aturan itu kemudian dicabut. Proses penyelidikan berlangsung lebih dari empat bulan.
Pada 10 Maret 2026, ia menjalani wawancara sukarela di bawah pengawasan untuk menghindari penangkapan lanjutan. Organisasi hukum ADF International yang mendampinginya menilai terdapat indikasi bias dalam proses tersebut.
Moodley menegaskan bahwa ia hanya menjalankan keyakinannya. “Saya menyampaikan Injil kepada semua orang sebagai bentuk kasih kepada Tuhan dan sesama,” ujarnya.
Ia mengaku proses hukum yang dijalani membuatnya menahan diri untuk tidak berkhotbah selama masa Natal hingga menjelang Paskah karena ketidakpastian status hukum.
Baru pada 4 April 2026, sehari sebelum Minggu Paskah, Moodley kembali berkhotbah di lokasi yang sama. Menurut laporan media lokal, ia mendapat dukungan dari sejumlah warga, meskipun juga sempat menghadapi penolakan dari sebagian pihak. Polisi tidak terlihat berada di lokasi saat kegiatan berlangsung.
Kasus ini menambah daftar insiden serupa di Inggris yang melibatkan pendeta atau penginjil jalanan. Sejumlah kelompok menyebut adanya ketimpangan dalam penegakan hukum terkait isu kebebasan berekspresi.
Hingga kini, belum ada dakwaan resmi yang diajukan terhadap Moodley. Ia menyatakan akan melanjutkan aktivitas pelayanannya sambil mempertimbangkan langkah hukum lebih lanjut.
Peristiwa ini mencerminkan perdebatan yang lebih luas di Inggris mengenai keseimbangan antara kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, dan upaya mencegah ujaran kebencian di ruang publik. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.