"Studi PRRI 2026 menunjukkan 43% perempuan Gen Z di AS tidak berafiliasi agama, meningkat tajam sejak 2013. Data Pew dan Gallup mengungkap penyempitan kesenjangan gender dalam religiusitas akibat perubahan sosial"
WASHINGTON DC, DC News — Perempuan selama ini dikenal sebagai pilar utama kehidupan beragama di Amerika Serikat. Namun, tren tersebut mulai bergeser, terutama di kalangan Generasi Z. Sejumlah studi terbaru menunjukkan penurunan signifikan tingkat religiusitas perempuan muda, bahkan melampaui laki-laki seusia mereka.
Laporan terbaru dari Public Religion Research Institute (PRRI) yang dirilis pada 15 April 2026 mengungkapkan bahwa 43 persen perempuan dewasa berusia di bawah 30 tahun kini mengidentifikasi diri sebagai tidak memiliki afiliasi agama atau dikenal dengan istilah “none”. Angka ini meningkat tajam dibandingkan 29 persen pada 2013.
Menariknya, persentase perempuan muda yang tidak berafiliasi agama kini lebih tinggi dibandingkan laki-laki muda, yang berada di angka 35 persen. Secara keseluruhan, sekitar 39 persen warga Amerika di bawah usia 30 tahun termasuk dalam kelompok “none”.
Temuan ini memperkuat data dari Pew Research Center yang menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam hal religiusitas di kalangan generasi muda semakin menyempit. Saat ini, sekitar 57 persen perempuan muda dan 58 persen laki-laki muda masih mengidentifikasi diri dengan suatu agama—angka yang hampir setara.
CEO PRRI, Melissa Deckman, menjelaskan bahwa perubahan ini bukan karena meningkatnya religiusitas laki-laki muda, melainkan karena penurunan pada perempuan. “Yang terjadi adalah perempuan muda mengalami penurunan keterikatan terhadap agama, sehingga posisinya kini sejajar dengan laki-laki,” ujarnya.
Deckman menilai, perubahan ini tidak lepas dari dinamika sosial dan politik di Amerika Serikat. Banyak perempuan muda, menurut dia, mulai menjauh dari institusi keagamaan yang dianggap masih mempromosikan peran gender tradisional.
“Ada benturan nilai yang nyata. Banyak perempuan muda merasa tidak sejalan dengan pandangan kelompok keagamaan konservatif, terutama terkait isu kesetaraan gender,” kata Deckman.
Sementara itu, riset dari Hartford Institute for Religion Research menunjukkan bahwa perempuan masih mendominasi sekitar 60 persen anggota aktif jemaat gereja. Namun, partisipasi generasi muda secara keseluruhan relatif rendah, hanya sekitar 14 persen dari total anggota gereja, meskipun kelompok usia ini mencakup sekitar seperempat populasi AS.
Peneliti Hartford Institute, Charissa Mikoski, mencatat bahwa meskipun ada indikasi sebagian anak muda masih rutin menghadiri kebaktian, tren jangka panjang tetap menunjukkan penurunan keterlibatan.
Di sisi lain, Pew Research Center juga mencatat bahwa peningkatan kelompok “tidak berafiliasi agama” yang terjadi dalam dua dekade terakhir mulai melambat. Proporsi kelompok ini naik dari 16 persen pada 2007 menjadi 31 persen pada 2022, namun kemudian relatif stabil di kisaran 28 persen.
Meski demikian, lebih dari separuh generasi muda Amerika masih mengidentifikasi diri sebagai religius.
Survei terbaru Gallup turut memberikan gambaran tambahan. Untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, laki-laki usia 18–29 tahun lebih mungkin menyatakan bahwa agama sangat penting dalam hidup mereka (42 persen) dibandingkan perempuan seusia, yang berada di kisaran 30 persen.
Para peneliti menilai, penurunan religiusitas perempuan muda menjadi faktor utama yang mempersempit kesenjangan gender dalam kehidupan beragama.
Fenomena ini juga tercatat dalam studi lembaga lain seperti Barna Research dan American Survey Center. Kedua lembaga tersebut menyoroti bahwa perempuan Gen Z cenderung meninggalkan gereja karena isu ketidaksetaraan gender, sikap terhadap komunitas LGBTQ+, serta pengaruh budaya digital yang semakin kuat.
Tren serupa, meski dalam konteks berbeda, juga mulai terlihat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sejumlah penelitian sosial menunjukkan adanya perubahan nilai di kalangan perempuan muda, seperti meningkatnya penundaan pernikahan dan pergeseran pandangan terhadap peran gender tradisional.
Para ahli menilai lembaga keagamaan tetap akan bertahan, meski dengan skala yang lebih kecil. “Kita hidup di era ketika banyak orang merasa kesepian dan mencari koneksi. Komunitas keagamaan sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjawab kebutuhan itu,” kata Deckman. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.