"Sekularisasi di Inggris makin tajam. Studi terbaru Pew Research mengungkap hampir sepertiga warga meninggalkan Kristen, didorong perubahan generasi dan lonjakan kelompok tanpa agama"
LONDON — Identitas keagamaan di Inggris tengah mengalami pergeseran besar. Bukan lagi sekadar tren, sekularisasi kini menjelma menjadi realitas sosial yang kian menguat—terutama di kalangan generasi muda.
Laporan terbaru Pew Research Center yang dirilis April 2026 mengungkap fakta mencolok: hampir sepertiga warga Inggris yang dibesarkan sebagai Kristen kini tidak lagi mengidentifikasi diri dengan agama apa pun.
Data menunjukkan, 51 persen responden dewasa di Inggris mengaku dibesarkan sebagai Protestan. Namun, hanya 31 persen yang masih bertahan. Sisanya telah meninggalkan keyakinan tersebut. Tren serupa terjadi pada Katolik—dari 16 persen yang dibesarkan, hanya 11 persen yang masih mengaku sebagai penganutnya.
Fenomena ini dikenal sebagai religious switching, yakni perubahan identitas agama dari masa kecil ke masa dewasa. Di Inggris, pergeseran ini didominasi oleh satu arah: keluar dari agama menuju status tanpa afiliasi.
Mayoritas mantan penganut Kristen tidak beralih ke agama lain. Sebaliknya, mereka memilih menjadi bagian dari kelompok “nones”—yakni mereka yang mengaku ateis, agnostik, atau tidak memiliki agama sama sekali.
Kondisi ini sejalan dengan data jangka panjang. Survei British Social Attitudes menunjukkan lebih dari 60 persen generasi usia 16–34 tahun kini tidak beragama. Angka ini menegaskan perubahan pola identitas yang semakin menjauh dari institusi keagamaan.
Secara global, tren ini tidak berdiri sendiri. Pew mencatat negara-negara maju seperti Inggris, Jerman, dan Swedia mengalami tingkat “kehilangan iman” yang tinggi. Sebaliknya, di kawasan Amerika Latin, perpindahan agama justru memperkuat pertumbuhan Protestan.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai krisis retensi—ketika generasi muda yang dibesarkan dalam tradisi agama tidak lagi merasa terikat secara sosial maupun emosional dengan institusi keagamaan.
Namun, sekularisasi tidak sepenuhnya identik dengan hilangnya spiritualitas. Di tengah penurunan identitas agama formal, laporan lain mencatat meningkatnya minat terhadap pencarian makna hidup dan spiritualitas personal di kalangan anak muda Inggris.
Meski demikian, klaim tentang “kebangkitan Kristen” di Inggris belakangan terbukti tidak akurat. Sejumlah laporan optimistis bahkan ditarik setelah ditemukan cacat data dalam survei.
Apakah ini berarti akhir dari Kristen di Inggris? Belum tentu. Namun satu hal jelas: status Kristen sebagai identitas default di negeri yang pernah menjadi pusat kekristenan dunia kini terus terkikis.
Sekularisasi bukan lagi bayang-bayang masa depan. Ia sudah menjadi wajah baru Inggris hari ini. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.