"Fenomena bed rotting viral di kalangan Gen Z disebut sebagai self-care. Namun, ahli mengingatkan risiko depresi, gangguan tidur, hingga isolasi sosial jika dilakukan berlebihan"
Fenomena “bed rotting” kian ramai diperbincangkan di kalangan Generasi Z. Di TikTok dan Instagram, ribuan video memperlihatkan anak muda menghabiskan waktu berjam-jam di atas kasur—bukan untuk tidur, melainkan menatap layar ponsel, menonton serial, atau sekadar berdiam diri.
Bagi sebagian orang, kebiasaan ini dianggap sebagai bentuk self-care paling jujur di tengah tekanan hidup modern. Namun, di balik tren yang tampak sederhana itu, para ahli mulai mengangkat kekhawatiran serius.
Istilah “bed rotting” sendiri bukan istilah medis, melainkan bahasa populer di media sosial untuk menggambarkan aktivitas rebahan berkepanjangan tanpa tujuan produktif. Tren ini mencuat pascapandemi, saat banyak anak muda mengalami kelelahan mental akibat perubahan gaya hidup, tekanan akademik, dan ketidakpastian masa depan.
Sejumlah survei memang menunjukkan Gen Z menghabiskan waktu signifikan untuk aktivitas pasif di tempat tidur. Namun, para peneliti mengingatkan, angka-angka tersebut tidak selalu berasal dari studi ilmiah yang representatif secara global.
Secara psikologis, istirahat pasif dalam durasi terbatas memang dapat membantu tubuh dan pikiran pulih dari stres. Psikolog klinis menyebutnya sebagai bentuk “reset” sistem saraf setelah kelelahan.
Namun, masalah muncul ketika kebiasaan ini menjadi rutinitas.
“Jika dilakukan terus-menerus, bed rotting bisa mengganggu ritme sirkadian, menurunkan kualitas tidur, dan memperparah kelelahan,” ujar sejumlah pakar kesehatan mental dalam berbagai publikasi ilmiah.
Lebih jauh, kebiasaan ini juga berpotensi menjadi indikator awal gangguan psikologis. Rebahan berkepanjangan, disertai paparan layar berlebih, dapat memicu isolasi sosial, kurang aktivitas fisik, serta minim paparan sinar matahari—faktor-faktor yang diketahui berkontribusi terhadap depresi dan kecemasan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan apa yang disebut sebagai “passive coping”, yakni mekanisme menghadapi stres dengan cara menghindar, bukan menyelesaikan masalah.
Di Indonesia, para akademisi melihat fenomena ini dalam konteks yang lebih luas. Tekanan sosial, tuntutan akademik, serta fase pencarian jati diri membuat banyak remaja dan dewasa muda mencari “tombol jeda” dalam hidup mereka.
Namun, garis antara istirahat yang sehat dan perilaku maladaptif sangat tipis.
Rebahan sesekali di akhir pekan mungkin tidak berbahaya. Akan tetapi, ketika aktivitas ini mulai menggantikan tanggung jawab, interaksi sosial, dan pola hidup sehat, maka itu bisa menjadi sinyal peringatan.
Para ahli menyarankan pendekatan yang lebih seimbang: membatasi waktu di tempat tidur, menjaga rutinitas tidur, tetap bergerak secara fisik, dan memastikan paparan sinar matahari harian.
Di era ketika kesehatan mental menjadi isu utama, Generasi Z dihadapkan pada pertanyaan penting: apakah rebahan ekstrem benar-benar bentuk perawatan diri, atau justru pelarian yang perlahan memperburuk kondisi psikologis?
Istirahat memang penting. Namun, ketika kenyamanan berubah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan, bisa jadi itu bukan lagi self-care—melainkan jebakan yang tak disadari. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.