"Dukungan anak muda konservatif dan evangelikal AS terhadap Israel melemah. Survei terbaru menunjukkan citra Israel memburuk, sementara gerakan Zionis Kristen masih kuat secara politik dan finansial"
Dukungan terhadap Israel di Amerika Serikat memasuki fase paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir. Yang mengejutkan, keretakan itu tidak hanya muncul dari kalangan progresif atau Demokrat, tetapi juga dari basis yang selama ini menjadi tulang punggung politik pro-Israel: kaum konservatif muda dan komunitas evangelikal.
Gerakan Zionis Kristen—arus teologis-politik yang meyakini dukungan terhadap Israel modern sebagai bagian dari mandat iman—selama puluhan tahun menjadi mesin penting dalam hubungan mesra Washington-Tel Aviv. Mereka menggalang suara, uang, jaringan gereja, hingga tekanan politik untuk memastikan Israel tetap mendapat dukungan besar dari Amerika.
Namun, tanda-tanda perubahan makin sulit diabaikan.
Survei Pew Research Center pada Maret 2026 menunjukkan 60 persen warga Amerika kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Angka itu naik dari 53 persen pada 2025 dan jauh memburuk dibanding 42 persen pada 2022. Hanya 37 persen responden yang masih berpandangan positif terhadap Israel.
Krisis citra itu lebih tajam di kalangan muda. Pew mencatat Republikan di bawah usia 30 tahun jauh lebih rendah kepercayaannya terhadap kebijakan Donald Trump soal hubungan AS-Israel dibanding Republikan berusia 65 tahun ke atas: 52 persen berbanding 93 persen.
Data lain dari IMEU Policy Project dan YouGov pada Desember 2025 menunjukkan mayoritas Republikan di bawah 45 tahun lebih memilih kandidat yang mendukung pengurangan senjata yang dibiayai pembayar pajak AS untuk Israel. Sebanyak 53 persen dari kelompok ini juga menolak perpanjangan kesepakatan bantuan senjata 10 tahun senilai 38 miliar dollar AS.
Perubahan itu juga terlihat di tubuh evangelikal muda. Riset Motti Inbari dan Kirill Bumin menunjukkan dukungan evangelikal muda Amerika terhadap Israel anjlok dari 68,9 persen pada 2018 menjadi 33,6 persen pada 2021. Pada saat yang sama, dukungan terhadap Palestina naik dari sekitar 5 persen menjadi 24,3 persen.
Pergeseran ini bukan hanya politik, tetapi juga teologis. Generasi muda evangelikal dinilai tidak lagi melihat Israel terutama melalui kacamata nubuat akhir zaman, melainkan melalui isu keadilan sosial, perang Gaza, pendudukan, dan penderitaan warga sipil Palestina.
Meski begitu, menyebut Zionis Kristen “runtuh” dalam waktu dekat masih terlalu dini. Pengaruh mereka tetap besar. Organisasi pro-Israel berbasis Kristen masih memiliki jejaring gereja, media, lembaga amal, donatur, dan akses politik yang luas. Dengan kata lain, dukungan publik boleh melemah, tetapi mesin politiknya belum mati.
Israel sendiri tampak menyadari krisis ini. Pemerintah Israel menyetujui anggaran diplomasi publik atau hasbara sekitar 730 juta dollar AS pada 2026, hampir lima kali lipat dari tahun sebelumnya. Dana besar itu digelontorkan ketika survei demi survei menunjukkan citra Israel terus memburuk di Amerika.
Inilah paradoks baru hubungan AS-Israel: dukungan institusional masih kuat, tetapi legitimasi sosialnya makin tergerus. Di generasi tua konservatif, Israel masih dipandang sebagai sekutu suci dan strategis. Di mata banyak anak muda, terutama setelah perang Gaza, Israel semakin dilihat sebagai kekuatan dominan yang harus dipertanyakan.
Jika tren ini berlanjut, Zionis Kristen mungkin tidak segera lenyap. Namun, aura tak tersentuhnya mulai pudar. Dan bagi Israel, kehilangan generasi muda konservatif Amerika bisa menjadi alarm politik yang jauh lebih berbahaya daripada kritik dari lawan lamanya.
Sumber: (Al Jazeera, Pew Research Center, IMEU Policy Project/YouGov, Tel Aviv University, Times of Israel/JTA)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.