"Kelompok afiliasi ISIS membakar Gereja St. Louis de Montfort di Mozambik hingga rata dengan tanah. Serangan terbaru di Cabo Delgado memperpanjang daftar kekerasan ekstremis yang telah menewaskan ribuan warga sejak 2017"
MEZA, MOZAMBIK – Di tengah bara konflik yang belum padam di Afrika Timur, kelompok ekstremis kembali menebar teror di Mozambik. Gereja St. Louis de Montfort di Distrik Meza, Provinsi Cabo Delgado, dibakar habis oleh militan bersenjata yang berafiliasi dengan ISIS pada 30 April 2026. Bangunan gereja bersejarah yang telah berdiri sejak 1946 itu kini hanya menyisakan puing-puing hitam dan reruntuhan.
Serangan tersebut tidak hanya menghancurkan gereja utama, tetapi juga rumah pastor dan fasilitas taman kanak-kanak milik paroki. Warga sipil disebut dipaksa menyaksikan aksi pembakaran sebelum kelompok bersenjata itu melarikan diri ke kawasan hutan.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, dampak psikologis yang ditinggalkan disebut sangat dalam. Uskup Pemba, António Juliasse Ferreira Sandramo, menggambarkan situasi itu sebagai “adegan teror sejati” yang menghancurkan simbol kehidupan masyarakat setempat.
“Rumah-rumah, infrastruktur, semuanya hancur. Paroki bersejarah kami kini tinggal reruntuhan,” ujarnya kepada lembaga kemanusiaan Katolik Aid to the Church in Need (ACN).
Para misionaris asal Kamerun yang bertugas di gereja tersebut dipastikan selamat karena sedang berada di luar lokasi saat serangan terjadi. Namun, umat Katolik di wilayah itu masih hidup dalam ketakutan setelah gelombang kekerasan terus berulang selama hampir satu dekade terakhir.
Ketua Konferensi Uskup Mozambik, Uskup Agung Inácio Saure, mengecam keras aksi tersebut. Ia menegaskan bahwa kekerasan atas nama agama hanya akan menghancurkan tradisi hidup berdampingan yang selama ini dijaga masyarakat Mozambik.
“Hentikan pembunuhan dan penghancuran atas nama agama. Muslim adalah saudara kita yang terkasih, bukan musuh,” tegasnya.
Cabo Delgado memang telah lama menjadi episentrum konflik bersenjata sejak pemberontakan kelompok ekstremis meledak pada 2017. Data berbagai lembaga internasional mencatat lebih dari 6.300 orang tewas dan hampir satu juta warga mengungsi akibat konflik tersebut. Puluhan gereja, kapel, sekolah, dan desa dilaporkan hancur dalam serangkaian serangan.
Kelompok bersenjata lokal yang dikenal sebagai Al-Shabab—berbeda dengan jaringan Al-Shabab di Somalia—kerap mengklaim aksi mereka di bawah afiliasi ISIS Afrika Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah utara Mozambik menjadi perhatian dunia internasional karena meningkatnya ancaman terorisme dan krisis kemanusiaan.
Di tengah situasi yang mencekam, Gereja Katolik di Mozambik berusaha tetap bertahan. Uskup Juliasse menegaskan bahwa serangan demi serangan tidak akan memadamkan keyakinan umat.
“Selama sembilan tahun kami menyaksikan gereja dan kapel dibakar. Namun iman umat Allah tidak akan pernah terbakar,” katanya.
Lembaga ACN bersama sejumlah organisasi kemanusiaan internasional kini terus menyalurkan bantuan darurat dan pendampingan trauma bagi para korban. Namun pertanyaan besar masih menggantung: seberapa lama dunia akan membiarkan Cabo Delgado terus tenggelam dalam lingkaran kekerasan?
(Sumber: Christian Today, ACN, Vatican News, National Catholic Reporter, EWTN, The Catholic Herald)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.