Berita

Israel Cari Solusi Akses Situs Suci Kristen di Yerusalem Usai Pembatasan Minggu Palma

Israel mencari solusi membuka akses situs suci Kristen di Yerusalem setelah pembatasan Minggu Palma memicu kritik internasional di tengah ancaman keamanan

Israel Cari Solusi Akses Situs Suci Kristen di Yerusalem Usai Pembatasan Minggu Palma
Berita 26 April 2026 60 views

Ukuran font

100%
"Israel mencari solusi membuka akses situs suci Kristen di Yerusalem setelah pembatasan Minggu Palma memicu kritik internasional di tengah ancaman keamanan"

YERUSALEM, DC News – Otoritas Israel berupaya mencari jalan keluar untuk membuka kembali akses ke sejumlah situs suci Kristen di Kota Tua Yerusalem setelah insiden pembatasan terhadap pemimpin Gereja Katolik pada Minggu Palma, 29 Maret 2026. Langkah pengamanan tersebut diberlakukan di tengah meningkatnya ancaman serangan rudal Iran dalam konflik yang masih berlangsung di kawasan.

Menurut keterangan resmi Patriarkat Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa bersama Custos Tanah Suci Pastor Francesco Ielpo tidak diizinkan oleh polisi Israel memasuki Gereja Makam Kudus untuk memimpin misa pribadi. Prosesi tradisional Minggu Palma dari Bukit Zaitun—yang biasanya menjadi bagian penting rangkaian Pekan Suci—juga dibatalkan.

Patriarkat menyebut kejadian ini sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern, di mana kepala Gereja Latin Yerusalem tidak dapat merayakan misa di salah satu tempat paling suci bagi umat Kristen.

Di sisi lain, Kepolisian Israel menjelaskan bahwa pembatasan tersebut merupakan bagian dari kebijakan keamanan yang dikeluarkan Home Front Command. Kebijakan itu berlaku menyeluruh bagi seluruh tempat ibadah di Kota Tua, tanpa membedakan agama, sebagai respons terhadap ancaman serangan rudal yang dinilai berisiko tinggi terhadap keselamatan publik.

“Langkah ini diambil semata-mata untuk melindungi nyawa warga dan pengunjung. Ancaman yang ada tidak membedakan agama,” demikian pernyataan polisi Israel melalui kanal resmi mereka.

Presiden Israel Isaac Herzog menyampaikan penyesalannya atas insiden tersebut dan menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga kebebasan beragama serta status quo di tempat-tempat suci Yerusalem. Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pembatasan dilakukan tanpa maksud diskriminatif, dan telah menginstruksikan aparat keamanan untuk menyusun skema agar akses ibadah dapat kembali dibuka, khususnya bagi pemimpin gereja.

Reaksi internasional pun bermunculan. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengkritik kebijakan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap kebebasan beragama. Vatikan, melalui Paus Leo XIV, juga menyampaikan keprihatinan atas kondisi umat Kristen di Timur Tengah yang tidak dapat menjalankan ritus keagamaan secara penuh di tengah situasi konflik.

Sejumlah laporan dari media internasional seperti Reuters dan Associated Press mencatat bahwa pembatasan akses ke situs suci di Yerusalem kerap terjadi dalam situasi keamanan yang memburuk, meskipun biasanya bersifat sementara dan disesuaikan dengan tingkat ancaman.

Patriarkat Latin Yerusalem sendiri menilai kebijakan tersebut “tidak proporsional” dan mendesak adanya jaminan akses ibadah, terutama selama Pekan Suci yang merupakan periode paling penting dalam kalender liturgi Kristen.

Setelah menuai kritik luas, otoritas Israel dan pihak gereja dilaporkan mencapai kesepakatan pada 30 Maret 2026. Kesepakatan itu memungkinkan Patriark Latin kembali mengakses Gereja Makam Kudus untuk rangkaian ibadah Pekan Suci. Pembatasan di sejumlah lokasi suci juga mulai dilonggarkan secara bertahap menyusul pengumuman gencatan senjata sementara pada awal April 2026.

Gereja Makam Kudus sendiri diyakini sebagai lokasi penyaliban dan kebangkitan Yesus Kristus, serta menjadi pusat perayaan Paskah yang setiap tahun menarik ribuan peziarah dari berbagai negara. Dalam beberapa tahun terakhir, pembatasan serupa juga pernah terjadi, termasuk saat pandemi Covid-19 dan dalam situasi ketegangan keamanan, meskipun konteksnya berbeda.

Peristiwa ini kembali menegaskan kompleksitas Yerusalem sebagai kota suci bagi tiga agama besar—Islam, Kristen, dan Yahudi—yang kerap menghadapi dilema antara kebutuhan menjaga keamanan dan menjamin kebebasan beribadah. []

Editor: OYR

Bagikan Artikel

Israel mencari solusi membuka akses situs suci Kristen di Yerusalem setelah pembatasan Minggu Palma memicu kritik internasional di tengah ancaman keamanan

Tags

Israel Yerusalem Gereja Makam Kudus Minggu Palma Kebebasan Beragama Konflik Timur Tengah Vatikan Benjamin Netanyahu Isaac Herzog Kristen Paskah Keamanan Israel

Percakapan Jemaat

Komentar

0 komentar ditampilkan.

Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda.

Tulis Komentar

Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.

Komentar akan masuk antrean moderasi sampai disetujui moderator.

Publikasi Terkait

Bacaan Lainnya

Lihat daftar

Persembahan & Donasi

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Umum & Pembangunan

Bank BCA

8870566159

Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S

Persepuluhan

Bank BCA

8870566701

Ester Joice P atau Rahel Natalia S

Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.

KONFIRMASI SEKARANG

Hubungi Kami

Kapel Alfa

Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39-40, Jakarta Selatan

Telepon: 0815-1341-3809

WhatsApp: 6281513413809

Pos PI HOPE

Ruko Maisonette No. 42, Jl. Raya Joglo, Jakarta Barat

Telepon: 0812-1085-0659

WhatsApp: 6281210850659

Pos PI Hineni Rehobot

Kota Kertabumi Commercial Estate B-35, Karawang Barat, Jawa Barat

Telepon: 0895-6182-11600

WhatsApp: 62895618211600