"Delegasi Gereja Palestina memperingatkan Parlemen Eropa bahwa serangan pemukim, pembatasan ibadah, dan perang Gaza mengancam keberadaan Kristen Palestina di Tanah Suci"
BRUSSELS — Masa depan komunitas Kristen Palestina kembali menjadi sorotan di jantung politik Eropa. Delegasi Komite Kepresidenan Tinggi Palestina untuk Urusan Gereja memperingatkan Parlemen Eropa bahwa serangan terhadap umat Kristen, gereja, rohaniwan, dan situs suci di wilayah pendudukan bukan lagi rangkaian insiden terpisah, melainkan ancaman serius terhadap keberadaan salah satu komunitas Kristen tertua di dunia.
Peringatan itu disampaikan dalam pertemuan di Brussels, Kamis, 7 Mei 2026. Delegasi Palestina yang terdiri dari Amira Hanania, teolog Mitri Raheb, Pendeta Fadi Diab, serta Duta Besar Palestina untuk Belgia, Luksemburg, dan Uni Eropa Amal Jadou Shakaa, bertemu dengan Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa David McAllister dan anggota Parlemen Eropa Regina Doherty.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi memaparkan peningkatan serangan pemukim terhadap komunitas Kristen, pelecehan terhadap rohaniwan, penodaan simbol keagamaan, ujaran kebencian, hingga praktik impunitas yang dinilai membuat pelaku nyaris tak tersentuh hukum. Wilayah seperti Taybeh, Birzeit, Beit Sahour, dan Al-Makhrour disebut berada dalam tekanan yang makin berat.
Mereka juga menyoroti pembatasan akses ibadah di Yerusalem, termasuk di sekitar Gereja Makam Suci, serta tekanan ekonomi dan administratif terhadap lembaga-lembaga gereja. Di Gaza, perang sejak 2023 telah menghancurkan ruang hidup warga sipil, termasuk komunitas Kristen yang berlindung di gereja-gereja dan lembaga keagamaan.
Kekhawatiran itu sejalan dengan laporan Dewan Gereja Sedunia yang menggambarkan meningkatnya kekerasan, tekanan ekonomi, pembatasan ibadah, serta kerusakan gereja, sekolah, dan rumah sakit Kristen di Tanah Suci. Laporan itu juga menyebut situs-situs seperti Holy Family Church, Gereja St Porphyrios, dan Rumah Sakit Al Ahli ikut terdampak perang.
Dalam beberapa pekan terakhir, sorotan terhadap perlakuan terhadap simbol dan komunitas Kristen makin menguat. Di Yerusalem, seorang pria Yahudi didakwa menyerang biarawati Katolik karena busana religiusnya. Di Lebanon selatan, foto seorang tentara Israel yang menodai patung Maria memicu kemarahan luas dan mendorong militer Israel membuka penyelidikan.
Delegasi Palestina mendesak Uni Eropa tidak berhenti pada pernyataan prihatin. Mereka meminta langkah politik konkret: perlindungan warga sipil, mekanisme pemantauan parlemen, akuntabilitas pelaku, serta tekanan diplomatik untuk menghentikan impunitas.
Bagi komunitas Kristen Palestina, isu ini bukan semata persoalan agama. Ini adalah pertaruhan tentang hak hidup, hak beribadah, dan kelangsungan warisan sejarah di Tanah Suci. Tanpa intervensi internasional yang nyata, mereka memperingatkan, kehadiran Kristen Palestina dapat terus menyusut hingga hanya tersisa sebagai catatan sejarah.
(Sumber: WAFA, Anadolu Agency, Komite Kepresidenan Tinggi Palestina untuk Urusan Gereja, World Council of Churches, Associated Press, Al Jazeera)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.