"Netanyahu bertemu prajurit Kristen IDF di tengah kontroversi insiden perusakan simbol Kristen di Lebanon selatan, memicu sorotan internasional"
Yerusalem, DC News — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan prajurit dan komandan Kristen di Angkatan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF), Minggu (27/4/2026). Pertemuan itu berlangsung di tengah meningkatnya sorotan terhadap perlakuan terhadap komunitas Kristen di Lebanon selatan dalam operasi militer terbaru Israel.
Dalam pernyataan video yang dirilis kantor Perdana Menteri, Netanyahu menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi prajurit Kristen di berbagai posisi strategis di militer Israel.
“Mereka mengisi berbagai peran penting dan menunjukkan dedikasi luar biasa,” ujar Netanyahu. Ia juga menyoroti kisah pengabdian dan pengorbanan para prajurit tersebut.
Netanyahu menegaskan bahwa komunitas Kristen di Israel terus berkembang, berbeda dengan tren di banyak negara Timur Tengah yang mengalami penurunan populasi Kristen akibat konflik dan migrasi.
Kontroversi di Lebanon Selatan
Pertemuan ini berlangsung di tengah kontroversi yang mencuat בעקבות operasi militer IDF di Lebanon selatan, wilayah yang juga dihuni sejumlah komunitas Kristen.
Sejumlah laporan warga dan pemimpin gereja setempat menyebutkan adanya kerusakan infrastruktur sipil di desa Debel, termasuk fasilitas air dan panel energi surya. Insiden yang paling menyita perhatian adalah perusakan patung Yesus oleh seorang prajurit IDF, yang videonya beredar luas di media sosial.
Militer Israel merespons cepat dengan membuka penyelidikan. Dalam pernyataannya, IDF menyebut tindakan tersebut “tidak sesuai dengan nilai-nilai militer”. Dua prajurit yang terlibat dijatuhi sanksi, termasuk hukuman penjara militer selama 30 hari.
Sebagai langkah pemulihan, IDF juga mengganti patung yang dirusak melalui koordinasi dengan warga lokal dan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), termasuk kontingen dari Italia.
Netanyahu sebelumnya menyatakan “terkejut dan menyesal” atas insiden tersebut, serta menegaskan komitmen Israel terhadap kebebasan beragama.
Perspektif Pemimpin Kristen dan Konteks Konflik
Insiden di Debel terjadi di tengah operasi Israel yang menargetkan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan. Israel menyatakan operasi tersebut bertujuan mencegah kelompok yang didukung Iran itu memperkuat kembali persenjataannya pasca-gencatan senjata.
Namun, Patriarkat Latin Yerusalem dan sejumlah pemimpin Kristen Lebanon menyampaikan keprihatinan atas dampak operasi militer terhadap warga sipil dan tempat ibadah.
Di sisi lain, pemerintah Israel kerap menekankan posisinya sebagai negara dengan populasi Kristen yang relatif stabil di kawasan. Data Biro Statistik Pusat Israel menunjukkan sekitar 185.000 warga Kristen tinggal di Israel, atau sekitar 1,9 persen dari populasi, dengan tren pertumbuhan moderat dalam beberapa tahun terakhir.
Sejumlah laporan, termasuk dari lembaga penelitian seperti Pew Research Center, juga mencatat bahwa populasi Kristen di Timur Tengah secara umum menurun dalam dua dekade terakhir akibat konflik, instabilitas, dan migrasi.
Dimensi Politik dan Citra Internasional
Pengamat menilai pertemuan Netanyahu dengan prajurit Kristen IDF juga memiliki dimensi politik dan diplomatik. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat narasi bahwa Israel menjamin kebebasan beragama, di tengah kritik internasional terkait dampak operasi militernya di kawasan perbatasan Lebanon.
Kehadiran prajurit Kristen dalam IDF, yang sebagian berasal dari komunitas Arab Israel, sering dijadikan simbol integrasi minoritas dalam struktur negara. Namun, dinamika konflik regional tetap menjadi tantangan dalam menjaga persepsi tersebut di tingkat global. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.