"Dewan Eropa dikritik karena dianggap mengabaikan gelombang kekerasan terhadap umat Kristen. Data terbaru mencatat lebih dari 2.200 insiden anti-Kristen di Eropa, termasuk pembakaran gereja hingga pembunuhan pendeta"
Dewan Eropa kembali menuai kritik keras setelah dituding gagal memberi perhatian serius terhadap meningkatnya kekerasan dan diskriminasi terhadap umat Kristen di benua tersebut. Di tengah lonjakan serangan terhadap gereja, pendeta, dan simbol-simbol keagamaan Kristen, lembaga itu justru dianggap lebih fokus menyoroti ancaman lain seperti antisemitisme dan Islamofobia.
Sorotan tajam muncul setelah Parliamentary Assembly of the Council of Europe (PACE) mengesahkan resolusi bertajuk Combating Religious-Based Discrimination pada 21 April 2026. Resolusi itu dinilai tidak memberikan pengakuan tegas terhadap fenomena “Christianophobia” atau kebencian terhadap umat Kristen yang disebut semakin mengkhawatirkan di Eropa.
European Centre for Law and Justice (ECLJ) menilai Dewan Eropa menunjukkan “ketidakmauan berkelanjutan” untuk mengakui secara penuh serangan anti-Kristen yang terus meningkat. Kritik itu terutama diarahkan pada mandat perwakilan khusus Dewan Eropa yang tidak secara eksplisit mencantumkan perlindungan terhadap umat Kristen, berbeda dengan kelompok agama lain.
“Hal ini membuat sebagian besar kekerasan terhadap umat Kristen menjadi tidak terlihat,” demikian pernyataan ECLJ.
Data terbaru dari Observatory on Intolerance and Discrimination against Christians in Europe (OIDAC) memperkuat kekhawatiran tersebut. Dalam laporan 2025, OIDAC mencatat lebih dari 2.200 insiden anti-Kristen sepanjang 2024 di berbagai negara Eropa. Kasus-kasus itu meliputi vandalisme, pembakaran gereja, penyerangan fisik, intimidasi terhadap umat beragama, hingga pembunuhan rohaniwan.
OIDAC menyebut jumlah pembakaran dan perusakan gereja meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tren kekerasan itu juga disebut terus berlanjut memasuki 2025 hingga 2026.
Sejumlah pengamat menilai banyak kasus tidak tercatat secara resmi karena korban enggan melapor. Mereka khawatir dianggap berlebihan atau tidak mendapat respons serius dari aparat dan otoritas setempat.
Desakan terhadap Dewan Eropa kini semakin menguat. ECLJ bahkan meluncurkan petisi yang telah ditandatangani lebih dari 9.600 warga Eropa. Petisi tersebut menuntut mekanisme khusus untuk memerangi diskriminasi terhadap umat Kristen.
“Ada mekanisme untuk melawan antisemitisme dan Islamofobia, tetapi tidak ada untuk Kristen. Ini tidak dapat diterima,” tulis ECLJ dalam petisinya.
Perdebatan ini memicu kekhawatiran lebih luas mengenai perubahan identitas Eropa. Benua yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat peradaban Kristen itu kini dinilai mulai kehilangan keberanian mempertahankan akar sejarah dan warisan keagamaannya sendiri.
Sejumlah analis memperingatkan, jika ketidakseimbangan perlindungan kebebasan beragama terus dibiarkan, stabilitas sosial Eropa dapat menghadapi tekanan baru di masa mendatang.
(Sumber: Christian Today, ECLJ, OIDAC Europe Report 2025, Christian Daily, OSCE)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.