"Tren freestyle handstand kembali viral di TikTok dan Instagram. Seorang siswa SD dilaporkan meninggal dunia usai mencoba gerakan ekstrem tersebut. KPAI dan dokter memperingatkan bahaya cedera fatal pada anak"
Jakarta — Tren “freestyle handstand” kembali viral di kalangan anak sekolah dasar dan kini memicu kekhawatiran serius. Aksi berdiri dengan tangan sambil melipat kaki hingga menyentuh kepala yang ramai di TikTok dan Instagram itu dilaporkan memakan korban jiwa. Seorang siswa SD di Lombok Timur meninggal dunia setelah mencoba menirukan gerakan ekstrem tersebut.
Fenomena ini dengan cepat menyebar di lingkungan sekolah, mushala, hingga area bermain anak. Banyak bocah merekam aksi mereka demi mengikuti tren media sosial tanpa memahami risiko fatal di baliknya.
Dokter ortopedi mengingatkan, struktur tulang anak yang masih dalam masa pertumbuhan jauh lebih rapuh dibandingkan orang dewasa. Kesalahan kecil saat bertumpu dapat menyebabkan patah tulang, dislokasi sendi, cedera leher, hingga benturan kepala yang berujung kematian.
Instruktur yoga dan pakar kebugaran juga pernah memperingatkan bahwa gerakan handstand tanpa latihan profesional berpotensi menyebabkan trauma serius pada bahu, tulang belakang, dan otak. Risiko semakin besar ketika dilakukan di lantai keras tanpa pengawasan orang dewasa.
Fenomena serupa sebenarnya pernah muncul pada 2021 saat Ramadan setelah terinspirasi emote game mobile. Namun, ledakan konten video pendek membuat tren tersebut kini menyebar jauh lebih cepat dan sulit dikendalikan.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) langsung merespons maraknya tren ini. KPAI meminta orang tua dan sekolah meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak serta permainan fisik yang berbahaya.
“Jangan biarkan anak bereksperimen sendiri. Beri pemahaman dan batasi paparan konten berisiko,” tegas KPAI.
Di sisi lain, para ahli menegaskan handstand sebenarnya memiliki manfaat bagi keseimbangan dan kekuatan tubuh apabila dilakukan dengan teknik benar dan pendampingan profesional. Namun, tren “freestyle liar” yang dilakukan sembarangan justru dinilai menjadi ancaman serius bagi keselamatan anak.
Orang tua diminta tidak sekadar melarang, tetapi juga aktif menjelaskan dampak fatal dari tren berbahaya di media sosial. Sebab, di balik video viral yang terlihat menghibur, risiko maut bisa datang hanya dalam hitungan detik.
(Sumber: MetroTV News, detikHealth, KPAI, NU Online, Instagram/TikTok Tren 2026)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.