"Hubungan pemerintah Uganda dan Tanzania dengan gereja menjadi sorotan. Di satu sisi dipuji sebagai mitra pembangunan, namun kritik tokoh agama terhadap pemerintah memicu ketegangan hingga penutupan gereja"
KAMPALA, DC News — Pemerintah Uganda dan Tanzania kembali menegaskan pentingnya kemitraan dengan gereja dalam pembangunan nasional. Namun di balik hubungan yang tampak harmonis itu, tersimpan dinamika rumit antara penguasa dan pemimpin agama di Afrika Timur.
Presiden Uganda Yoweri Museveni belakangan memuji gereja sebagai kekuatan moral yang membantu menjaga stabilitas sosial dan pembangunan masyarakat. Pemerintah Uganda menilai institusi gereja berperan besar dalam pendidikan, layanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi warga.
“Gereja telah menjadi fondasi perdamaian dan tanggung jawab sosial,” demikian pernyataan pemerintah Uganda dalam sejumlah agenda kenegaraan terbaru.
Church of Uganda juga diketahui memiliki jaringan luas dan aktif bekerja sama dengan pemerintah dalam berbagai proyek sosial.
Namun situasi berbeda terlihat di Tanzania.
Hubungan pemerintah dengan tokoh gereja justru memanas setelah Uskup Josephat Gwajima melontarkan kritik keras terhadap dugaan pelanggaran hak asasi manusia, penculikan aktivis, dan hilangnya sejumlah warga menjelang momentum politik nasional.
Tak lama setelah kritik itu disampaikan dalam khotbah gereja, pemerintah Tanzania menutup gereja besar milik Gwajima yang memiliki ribuan cabang dan puluhan ribu jemaat. Pemerintah menuduh khotbah tersebut bermuatan politik dan dapat mengganggu stabilitas negara.
Langkah itu memicu kekhawatiran kelompok hak asasi manusia dan organisasi gereja internasional terkait kebebasan beragama serta kebebasan berekspresi di Tanzania.
Sebelumnya, sejumlah organisasi gereja di Tanzania juga mengecam tindakan represif aparat keamanan dan menyerukan perlindungan terhadap hak-hak sipil warga.
Pengamat menilai gereja di Afrika Timur memiliki posisi unik: menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus kekuatan moral yang bisa berubah menjadi oposisi ketika kebijakan negara dianggap melanggar keadilan sosial.
Di Uganda sendiri, pengaruh pemimpin agama terhadap politik nasional sangat besar. Politikus kerap mendekati gereja dan tokoh agama untuk memperoleh dukungan publik menjelang pemilu.
Situasi serupa juga terjadi di Tanzania, di mana gereja bukan sekadar institusi keagamaan, melainkan aktor sosial-politik yang memiliki pengaruh luas terhadap opini masyarakat.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa hubungan negara dan gereja di Afrika Timur berjalan di atas garis tipis: antara kerja sama pembangunan dan potensi benturan politik.
(Sumber: Christian Daily, Christian Post, State House Uganda, Nile Post, Open Doors, Church of Uganda)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.