Berita

Panik Lantaran AI, Anak Jadi Korban “Perang Les”

Fenomena “perang les” makin masif di era AI, tapi riset global menunjukkan dampak buruk pada anak. Apakah bimbel mahal benar-benar menjamin masa depan?

Panik Lantaran AI, Anak Jadi Korban “Perang Les”
Berita 4 Mei 2026 38 views

Ukuran font

100%
"Fenomena “perang les” makin masif di era AI, tapi riset global menunjukkan dampak buruk pada anak. Apakah bimbel mahal benar-benar menjamin masa depan?"

Bukan hal baru di Indonesia dimana orang tua sibuk memasukkan anak-anak ke tempat les atau bimbingan belajar. Dari jenjang taman kanak-kanak hingga calon mahasiswa, anak-anak didorong mengikuti bimbingan belajar berlapis demi satu tujuan: masuk jurusan “aman” seperti kedokteran, teknik, atau teknologi informasi.

Kini, kecemasan itu kian membesar. Bukan lagi persaingan masuk perguruan tinggi, melainkan ancaman kecerdasan buatan (AI) yang diyakini bisa menggerus masa depan kerja.

Namun, sebuah peringatan keras datang dari kolumnis Financial Times, Camilla Cavendish, dalam tulisannya bertajuk “Paranoid Parenting in the Age of AI” (2 Mei 2026). Ia menyebut upaya orang tua “mengamankan masa depan” anak lewat les berlebihan sebagai ilusi—bahkan berbahaya.

Ilusi “Jurusan Aman” di Era AI

Cavendish menegaskan, kecemasan orang tua memang bisa dipahami di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat AI. Namun, strategi yang ditempuh sering keliru.

Dulu, belajar coding dianggap jalan aman. Kini, perkembangan AI justru mengubah lanskap itu secara drastis. Bahkan bidang yang dulu dianggap “kebal otomatisasi”, seperti matematika tingkat tinggi, mulai terdampak.

Laporan World Economic Forum Future of Jobs 2025 menegaskan bahwa perubahan terbesar bukan pada hilangnya pekerjaan semata, melainkan pada transformasi keterampilan. Sekitar 44 persen keterampilan pekerja diperkirakan berubah dalam lima tahun ke depan.

Artinya, tak ada lagi jurusan yang benar-benar “anti-AI”.

Bukti dari Korea Selatan: Les Berlebihan, Anak Kehilangan Makna Belajar

Dampak negatif budaya les ekstrem terlihat jelas di Korea Selatan, negara dengan sistem shadow education paling intens di dunia.

Penelitian dalam Comparative Education Review oleh Soo-yong Byun dan tim menemukan bahwa siswa sekolah dasar yang mengikuti les tambahan secara intens justru lebih sering mengalami “behavioral disengagement”—tidak fokus, mengantuk, dan kehilangan minat belajar di sekolah formal.

Data pemerintah Korea Selatan terbaru (2025) menunjukkan:

  • Lebih dari 75 persen siswa mengikuti les privat
  • Total pengeluaran mencapai sekitar 27,5 triliun won (sekitar Rp 300 triliun)
  • Hampir setengah siswa SMA tidur kurang dari 6 jam per hari

Konsekuensinya bukan sekadar kelelahan, tetapi juga burnout, stres kronis, hingga depresi.

Fenomena serupa mulai terlihat di berbagai negara, termasuk Indonesia, seiring meningkatnya tekanan akademik dan ketakutan terhadap masa depan kerja.

Generasi Z Mulai Ragu dengan Pilihan Jurusan

Kecemasan terhadap AI juga tercermin di kalangan mahasiswa.

Survei Gallup-Lumina Foundation (April 2026) menunjukkan:

  • 47 persen mahasiswa S1 di AS mempertimbangkan mengganti jurusan karena AI
  • 16 persen sudah benar-benar berpindah jurusan

Sementara itu, laporan dari Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan 50–55 persen pekerjaan di Amerika Serikat akan mengalami transformasi signifikan dalam 2–3 tahun ke depan akibat AI.

Goldman Sachs juga mencatat tren pemangkasan pekerjaan entry-level, dengan rata-rata sekitar 10.000–20.000 pekerjaan terdampak setiap bulan secara bersih, terutama di sektor administratif dan teknologi dasar.

Bukan Gelar, Tapi Keterampilan Manusia

Di tengah ketidakpastian ini, para pakar menekankan satu hal: masa depan tidak ditentukan oleh jurusan, melainkan oleh keterampilan.

World Economic Forum menempatkan keterampilan berikut sebagai yang paling dibutuhkan:

  • Creative thinking (berpikir kreatif)
  • Analytical thinking (berpikir analitis)
  • AI literacy (kemampuan bekerja dengan AI)
  • Adaptabilitas dan ketahanan mental
  • Empati dan kolaborasi

Ini menunjukkan bahwa keunggulan manusia justru terletak pada hal-hal yang sulit direplikasi mesin.

Pesan Pakar: Orang Tua Harus Mengurangi Kecemasan, Bukan Menularkannya

Pakar pendidikan Anthony Seldon dan penulis Rachel Kelly mengingatkan bahwa peran orang tua bukan menambah tekanan, melainkan melindungi anak dari kecemasan berlebihan.

“Biarkan anak memilih berdasarkan minat dan kemampuan mereka, bukan ketakutan orang tua,” kata Seldon.

Pendekatan ini sejalan dengan tren global pendidikan yang mulai beralih ke human-centered learning.

Indonesia: Budaya Bimbel dan Tantangan AI

Di Indonesia, fenomena ini menjadi semakin relevan.

Tekanan masuk perguruan tinggi negeri favorit, ditambah maraknya industri bimbingan belajar, membuat banyak siswa terjebak dalam rutinitas akademik tanpa ruang eksplorasi diri.

Pemerintah Indonesia sendiri mulai merespons. Pada 2025–2026, Kemendikbudristek mendorong integrasi AI dalam pendidikan dengan pendekatan berbasis manusia (human-centered AI), yang menekankan pentingnya:

  • Berpikir kritis
  • Literasi digital
  • Kreativitas
  • Etika penggunaan teknologi

Saatnya Mengakhiri “Perang Les”

Fakta-fakta ini menunjukkan satu hal: masa depan tidak bisa diprediksi dengan rumus lama.

Menjejali anak dengan les tanpa henti bukan jaminan sukses—justru berisiko merusak motivasi dan kesehatan mental mereka.

Di era AI, yang dibutuhkan bukan anak yang paling banyak hafal, melainkan yang:

  • mampu beradaptasi
  • berani mencoba
  • tahan gagal
  • dan tetap memiliki empati

Mungkin sudah saatnya orang tua berhenti mengejar ilusi “robot-proof”.

Karena di dunia yang berubah cepat, keunggulan terbesar bukanlah kepastian—melainkan kemampuan untuk terus belajar dan tetap menjadi manusia. []

Editor: OYR

Bagikan Artikel

Fenomena “perang les” makin masif di era AI, tapi riset global menunjukkan dampak buruk pada anak. Apakah bimbel mahal benar-benar menjamin masa depan?

Tags

AI pendidikan Indonesia bimbel UTBK parenting masa depan kerja World Economic Forum burnout siswa Korea Selatan Gen Z kecerdasan buatan pendidikan anak karier masa depan edutech human skills

Percakapan Jemaat

Komentar

0 komentar ditampilkan.

Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda.

Tulis Komentar

Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.

Komentar akan masuk antrean moderasi sampai disetujui moderator.

Publikasi Terkait

Bacaan Lainnya

Lihat daftar

Persembahan & Donasi

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Umum & Pembangunan

Bank BCA

8870566159

Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S

Persepuluhan

Bank BCA

8870566701

Ester Joice P atau Rahel Natalia S

Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.

KONFIRMASI SEKARANG

Hubungi Kami

Kapel Alfa

Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39-40, Jakarta Selatan

Telepon: 0815-1341-3809

WhatsApp: 6281513413809

Pos PI HOPE

Ruko Maisonette No. 42, Jl. Raya Joglo, Jakarta Barat

Telepon: 0812-1085-0659

WhatsApp: 6281210850659

Pos PI Hineni Rehobot

Kota Kertabumi Commercial Estate B-35, Karawang Barat, Jawa Barat

Telepon: 0895-6182-11600

WhatsApp: 62895618211600