"Donald Trump mengklaim Xi Jinping mempertimbangkan serius pembebasan Pendeta Ezra Jin, pemimpin gereja rumah di China yang dipenjara sejak 2025. Kasus ini memicu sorotan global soal kebebasan beragama dan diplomasi AS-China"
Pendeta Ezra Jin kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap adanya peluang baru bagi pembebasan pemimpin gereja rumah tersebut dari penjara China.
Trump menyatakan Presiden China Xi Jinping tengah memberikan “pertimbangan serius” terkait nasib Pendeta Jin, yang ditahan sejak Oktober 2025 dalam operasi besar aparat terhadap Gereja Zion Beijing. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di atas Air Force One usai kunjungan singkatnya ke Beijing, Jumat (15/5/2026).
“Saya rasa dia memberikan pertimbangan yang sangat serius terhadap pendeta itu,” kata Trump.
Pernyataan tersebut langsung memantik perhatian internasional karena menjadi sinyal langka bahwa isu kebebasan beragama mulai masuk ke meja diplomasi tingkat tinggi antara Washington dan Beijing.
Pendeta Ezra Jin dikenal sebagai pendiri Gereja Zion Beijing, salah satu gereja rumah terbesar di China yang sempat memiliki ribuan jemaat sebelum akhirnya dibubarkan pemerintah. Otoritas China menuding gereja independen seperti Zion sebagai ancaman terhadap stabilitas negara dan kontrol Partai Komunis.
Penangkapan Jin pada 2025 terjadi di tengah gelombang pengetatan kebijakan Xi Jinping terhadap kelompok keagamaan nonresmi. Sejumlah laporan organisasi HAM internasional menyebut ribuan umat Kristen di China mengalami pengawasan digital, pembatasan ibadah, hingga penahanan.
Meski ditekan, banyak komunitas gereja rumah tetap bertahan dengan menggelar ibadah secara daring dan berpindah-pindah lokasi untuk menghindari razia aparat.
Putri Pendeta Jin, Grace Jin Drexel, mengaku tersentuh mendengar pernyataan Trump. Ia mengatakan keluarganya selama ini mengalami kesulitan mendapatkan akses hukum dan informasi kondisi sang ayah di tahanan.
“Kami berdoa ada keajaiban setelah pertemuan ini,” ujar Grace.
Trump juga menyinggung kasus Jimmy Lai, tokoh media pro-demokrasi Hong Kong yang hingga kini masih ditahan Beijing. Namun menurut Trump, kasus Lai dinilai “jauh lebih rumit” bagi Xi Jinping dibanding Pendeta Jin.
Sampai Sabtu (16/5/2026), pemerintah China belum memberikan tanggapan resmi atas klaim Trump tersebut. Meski demikian, analis hubungan internasional menilai pernyataan Trump dapat menjadi bagian dari strategi diplomasi baru AS untuk menekan Beijing dalam isu hak asasi manusia, di tengah hubungan kedua negara yang masih dibayangi perang dagang, teknologi, dan ketegangan geopolitik di Asia.
Lembaga pemantau kebebasan beragama Open Doors sebelumnya menempatkan China sebagai salah satu negara dengan pengawasan paling ketat terhadap komunitas Kristen independen. Dalam laporan terbaru mereka, penggunaan teknologi pengenal wajah, sensor digital, dan kontrol ketat terhadap aktivitas gereja disebut terus meningkat sepanjang 2025 hingga 2026.
Kini, komunitas Kristen global menanti apakah pernyataan Trump benar-benar akan berujung pada langkah konkret dari Xi Jinping atau hanya menjadi bagian dari manuver politik tingkat tinggi antara dua kekuatan dunia.
(Sumber: Reuters, The Hill, The Washington Post, AP, Premier Christian News, Open Doors, BBC)
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.