"Tren global menunjukkan Gen Z semakin menunda bahkan meninggalkan pernikahan dan anak. Simak data terbaru dari AS hingga Indonesia, serta dampaknya bagi masa depan demografi"
Generasi Z di Amerika Serikat kian berani mendefinisikan ulang makna hidup. Bagi mereka, kebahagiaan tidak lagi identik dengan pernikahan atau memiliki anak.
Temuan terbaru Barna Group mengungkap, sekitar 74 persen Gen Z mengaku dapat menjalani hidup yang memuaskan tanpa keturunan. Angka ini menjadi yang tertinggi dibanding generasi sebelumnya. Di saat yang sama, hanya 67 persen yang menilai pernikahan penting untuk membangun keluarga stabil—terendah dalam sejarah survei tersebut.
Laporan “The State of Today’s Family” yang melibatkan lebih dari 3.500 responden dewasa di AS pada 2024 menunjukkan perubahan nilai yang signifikan. Peneliti George Barna mencatat, dukungan terhadap konsep pernikahan tradisional juga terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, bukan berarti Gen Z sepenuhnya menolak pernikahan. Sekitar 81 persen masih menghargai institusi tersebut, dan 78 persen yang belum menikah tetap berharap melangkah ke jenjang itu suatu hari nanti. Hanya saja, mereka memilih menunda.
Alasannya beragam, namun satu benang merah terlihat jelas: tekanan ekonomi. Biaya hidup yang kian tinggi, harga rumah yang melonjak, serta ketidakpastian karier membuat banyak anak muda berpikir ulang. Di sisi lain, kesadaran terhadap kesehatan mental juga meningkat, mendorong mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar.
Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pernikahan menurun drastis dalam satu dekade terakhir—dari lebih dari 2 juta pasangan per tahun menjadi sekitar 1,47 juta pada 2024. Pada 2025, jumlah itu hanya naik tipis.
Di kalangan anak muda, istilah “Marriage is Scary” semakin populer. Survei Populix dan IDN Research menemukan lebih dari separuh Gen Z memandang pernikahan bukan lagi tujuan utama hidup. Banyak yang memilih menunda hingga usia 25–30 tahun demi stabilitas finansial dan kesiapan mental.
Trauma masa kecil juga berperan. Sebagian Gen Z tumbuh dengan menyaksikan perceraian orang tua atau konflik keluarga, sehingga lebih berhati-hati dalam membangun hubungan jangka panjang.
Data Pew Research Center memperkuat tren ini. Hanya sekitar dua dari tiga remaja Amerika yang menyatakan kemungkinan besar akan menikah—turun tajam dibanding era 1990-an. Bahkan, hanya sekitar 20 persen anak muda yang menganggap pernikahan atau memiliki anak sebagai faktor sangat penting dalam hidup yang memuaskan.
Sebaliknya, pekerjaan yang bermakna dan relasi pertemanan justru menjadi prioritas utama.
Pergeseran ini mencerminkan perubahan besar dalam cara pandang generasi digital terhadap kehidupan. Di satu sisi, mereka dinilai lebih rasional dan tidak terburu-buru mengambil keputusan besar. Namun di sisi lain, para ahli demografi mengingatkan adanya risiko jangka panjang, mulai dari penurunan angka kelahiran hingga penuaan populasi.
Bagi Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi, tren ini menjadi sinyal penting. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah generasi muda akan menikah, melainkan kapan—atau bahkan, apakah mereka masih melihatnya sebagai kebutuhan.
Satu hal yang pasti: bagi Gen Z, pernikahan bukan lagi kewajiban. Ia telah berubah menjadi pilihan sadar—yang harus dipertimbangkan dengan matang, bukan sekadar mengikuti norma. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.