Berita

Gen Z Mulai Tinggalkan Pernikahan? Data Terbaru Ungkap Fakta Mengejutkan

Tren global menunjukkan Gen Z semakin menunda bahkan meninggalkan pernikahan dan anak. Simak data terbaru dari AS hingga Indonesia, serta dampaknya bagi masa depan demografi

Gen Z Mulai Tinggalkan Pernikahan? Data Terbaru Ungkap Fakta Mengejutkan
Berita 4 Mei 2026 50 views

Ukuran font

100%
"Tren global menunjukkan Gen Z semakin menunda bahkan meninggalkan pernikahan dan anak. Simak data terbaru dari AS hingga Indonesia, serta dampaknya bagi masa depan demografi"

Generasi Z di Amerika Serikat kian berani mendefinisikan ulang makna hidup. Bagi mereka, kebahagiaan tidak lagi identik dengan pernikahan atau memiliki anak.

Temuan terbaru Barna Group mengungkap, sekitar 74 persen Gen Z mengaku dapat menjalani hidup yang memuaskan tanpa keturunan. Angka ini menjadi yang tertinggi dibanding generasi sebelumnya. Di saat yang sama, hanya 67 persen yang menilai pernikahan penting untuk membangun keluarga stabil—terendah dalam sejarah survei tersebut.

Laporan “The State of Today’s Family” yang melibatkan lebih dari 3.500 responden dewasa di AS pada 2024 menunjukkan perubahan nilai yang signifikan. Peneliti George Barna mencatat, dukungan terhadap konsep pernikahan tradisional juga terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, bukan berarti Gen Z sepenuhnya menolak pernikahan. Sekitar 81 persen masih menghargai institusi tersebut, dan 78 persen yang belum menikah tetap berharap melangkah ke jenjang itu suatu hari nanti. Hanya saja, mereka memilih menunda.

Alasannya beragam, namun satu benang merah terlihat jelas: tekanan ekonomi. Biaya hidup yang kian tinggi, harga rumah yang melonjak, serta ketidakpastian karier membuat banyak anak muda berpikir ulang. Di sisi lain, kesadaran terhadap kesehatan mental juga meningkat, mendorong mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar.

Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pernikahan menurun drastis dalam satu dekade terakhir—dari lebih dari 2 juta pasangan per tahun menjadi sekitar 1,47 juta pada 2024. Pada 2025, jumlah itu hanya naik tipis.

Di kalangan anak muda, istilah “Marriage is Scary” semakin populer. Survei Populix dan IDN Research menemukan lebih dari separuh Gen Z memandang pernikahan bukan lagi tujuan utama hidup. Banyak yang memilih menunda hingga usia 25–30 tahun demi stabilitas finansial dan kesiapan mental.

Trauma masa kecil juga berperan. Sebagian Gen Z tumbuh dengan menyaksikan perceraian orang tua atau konflik keluarga, sehingga lebih berhati-hati dalam membangun hubungan jangka panjang.

Data Pew Research Center memperkuat tren ini. Hanya sekitar dua dari tiga remaja Amerika yang menyatakan kemungkinan besar akan menikah—turun tajam dibanding era 1990-an. Bahkan, hanya sekitar 20 persen anak muda yang menganggap pernikahan atau memiliki anak sebagai faktor sangat penting dalam hidup yang memuaskan.

Sebaliknya, pekerjaan yang bermakna dan relasi pertemanan justru menjadi prioritas utama.

Pergeseran ini mencerminkan perubahan besar dalam cara pandang generasi digital terhadap kehidupan. Di satu sisi, mereka dinilai lebih rasional dan tidak terburu-buru mengambil keputusan besar. Namun di sisi lain, para ahli demografi mengingatkan adanya risiko jangka panjang, mulai dari penurunan angka kelahiran hingga penuaan populasi.

Bagi Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi, tren ini menjadi sinyal penting. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah generasi muda akan menikah, melainkan kapan—atau bahkan, apakah mereka masih melihatnya sebagai kebutuhan.

Satu hal yang pasti: bagi Gen Z, pernikahan bukan lagi kewajiban. Ia telah berubah menjadi pilihan sadar—yang harus dipertimbangkan dengan matang, bukan sekadar mengikuti norma. []

Editor: OYR

Bagikan Artikel

Tren global menunjukkan Gen Z semakin menunda bahkan meninggalkan pernikahan dan anak. Simak data terbaru dari AS hingga Indonesia, serta dampaknya bagi masa depan demografi

Tags

Gen Z pernikahan tren generasi muda childfree data BPS Pew Research Barna Group Indonesia demografi marriage is scary anak muda ekonomi kesehatan mental fertility rate keluarga modern

Percakapan Jemaat

Komentar

0 komentar ditampilkan.

Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama membagikan tanggapan Anda.

Tulis Komentar

Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.

Komentar akan masuk antrean moderasi sampai disetujui moderator.

Publikasi Terkait

Bacaan Lainnya

Lihat daftar

Persembahan & Donasi

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Umum & Pembangunan

Bank BCA

8870566159

Octafred Yosimend P atau Rahel Natalia S

Persepuluhan

Bank BCA

8870566701

Ester Joice P atau Rahel Natalia S

Mohon konfirmasi melalui WhatsApp setelah melakukan transfer pelayanan kasih Anda.

KONFIRMASI SEKARANG

Hubungi Kami

Kapel Alfa

Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39-40, Jakarta Selatan

Telepon: 0815-1341-3809

WhatsApp: 6281513413809

Pos PI HOPE

Ruko Maisonette No. 42, Jl. Raya Joglo, Jakarta Barat

Telepon: 0812-1085-0659

WhatsApp: 6281210850659

Pos PI Hineni Rehobot

Kota Kertabumi Commercial Estate B-35, Karawang Barat, Jawa Barat

Telepon: 0895-6182-11600

WhatsApp: 62895618211600