"Desa Kristen Debel di Lebanon selatan kembali menjadi sasaran operasi IDF. Video penghancuran panel surya viral, warga kehilangan akses listrik dan air di tengah konflik Israel-Hizbullah 2026"
DEBEL, LEBANON SELATAN — Desa Debel, sebuah komunitas Kristen yang terletak di perbatasan Lebanon-Israel, kembali menjadi sorotan setelah video penghancuran panel surya milik warga oleh tentara Israel Defense Forces (IDF) viral di media sosial, Sabtu (26/4/2026).
Rekaman yang beredar luas di media Lebanon memperlihatkan penggunaan ekskavator untuk merusak sumber energi warga. Tidak hanya itu, laporan sejumlah media menyebut kerusakan meluas hingga rumah penduduk, jalan desa, kendaraan industri, pohon zaitun, serta infrastruktur air yang vital bagi kehidupan sehari-hari.
Insiden ini menambah daftar panjang tekanan yang dialami warga Debel. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, desa tersebut telah dua kali menjadi lokasi insiden yang memicu perhatian internasional.
Sebelumnya, pertengahan April 2026, seorang tentara IDF terekam menghancurkan patung Yesus di taman rumah warga menggunakan palu godam. Video tersebut menuai kecaman global, termasuk dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang mengaku “terkejut dan sedih”.
Sebagai respons, militer Israel menjatuhkan hukuman penjara militer selama 30 hari kepada dua tentara yang terlibat, mencopot mereka dari tugas tempur, serta memberikan sanksi disiplin kepada enam personel lainnya. Patung yang dirusak kemudian diganti oleh pasukan Italia yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon.
Namun, insiden terbaru menunjukkan ketegangan belum mereda.
Dalam pernyataan resminya, IDF mengakui tindakan dalam video tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai militer mereka. “Perilaku seperti yang terlihat tidak sesuai dengan standar yang diharapkan,” demikian pernyataan yang dikutip media Lebanon. IDF juga menyatakan telah membuka penyelidikan internal, meski hingga Rabu (30/4/2026) belum ada hasil atau sanksi yang diumumkan.
Bagi warga Debel, pernyataan itu belum cukup meredakan kegelisahan.
“Kami hanya ingin tinggal di rumah kami. Sekarang listrik dan air kami terancam,” ujar seorang warga, seperti dilaporkan berbagai media lokal.
Mayoritas penduduk Debel merupakan umat Kristen yang bertahan di tengah konflik berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah. Meski berada di zona yang disebut sebagai “zona keamanan” oleh Israel, warga mengaku tidak pernah diperintahkan untuk mengungsi, sehingga mereka tetap berada di tengah risiko operasi militer.
Laporan dari Times of Israel dan Associated Press (AP News) menyebut operasi militer Israel di Lebanon selatan terus meluas. Desa-desa Kristen lain seperti Rmeish, Ain Ebel, dan Qouzah juga dilaporkan mengalami kerusakan serupa.
Israel menegaskan bahwa target utama operasi adalah kelompok Hizbullah. Namun, warga sipil—termasuk komunitas Kristen—mengaku terus menjadi korban dampak lanjutan dari konflik tersebut.
Situasi ini memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Ribuan warga dilaporkan mengungsi atau hidup dalam ketakutan, sementara distribusi bantuan kemanusiaan, termasuk dari Vatikan, sempat terhambat akibat intensitas serangan.
Organisasi seperti International Christian Concern (ICC) serta para pemimpin gereja lokal menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap keselamatan umat Kristen di wilayah perbatasan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Lebanon maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait insiden terbaru di Debel.
Sementara itu, bagi warga setempat, setiap kerusakan yang terjadi bukan sekadar kehilangan fisik.
“Ini seperti luka di hati kami,” kata seorang warga, menggambarkan realitas hidup di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.