"Rumah keluarga Kristen di Lebanon selatan hancur akibat konflik Israel-Hizbullah 2026. Data BBC Verify dan PBB ungkap ribuan korban dan kehancuran desa-desa perbatasan"
QOUZAH, LEBANON SELATAN — Sebuah rumah yang dibangun dengan kerja keras selama enam tahun kini hanya tersisa puing. Bagi Joe Elias dan istrinya, Diana, kehancuran itu bukan sekadar kehilangan fisik, melainkan luka mendalam yang menyentuh iman dan harapan mereka.
Pasangan Kristen ini kembali ke desa leluhur mereka di Qouzah setelah 26 tahun menetap di Amerika Serikat. Namun, harapan untuk menikmati masa depan di tanah kelahiran berubah menjadi duka, ketika rumah mereka diketahui hancur—bukan dari kunjungan langsung, melainkan dari citra satelit.
“Ini bencana… bukan hanya bagi keluarga saya, tapi bagi setiap keluarga yang tinggal di kota itu,” ujar Joe Elias dengan suara bergetar, seperti dikutip dari BBC Verify.
Desa Qouzah dikenal sebagai wilayah mayoritas Kristen yang berada di ketinggian sekitar 750 meter, dengan panorama luas hingga ke wilayah Haifa, Israel. Di sanalah keluarga Elias membangun kehidupan baru, lengkap dengan kebun zaitun, ara, dan delima yang setiap tahun menghasilkan sekitar 1.000 liter minyak zaitun organik.
Kini, semua itu lenyap. Pohon-pohon yang ditanam dengan penuh pengharapan turut hancur. Bahkan furnitur khas Amish dari Pennsylvania yang mereka bawa sebagai simbol perjalanan hidup, ikut hilang tanpa bekas.
Konflik Memanas, Warga Sipil Menanggung Dampak
Kehancuran ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Hizbullah dan Israel yang kembali pecah sejak awal Maret 2026. Joe mengakui kehadiran Hizbullah di desanya, namun ia menilai respons militer Israel tidak proporsional.
“Saya paham ada dua pihak yang saling menyerang. Tapi pada akhirnya, warga sipil Lebanon yang menanggung akibatnya,” katanya.
BBC Verify mengonfirmasi bahwa hampir sepertiga bangunan di kawasan permukiman Qouzah hancur dalam rentang 3 Maret hingga 16 April 2026. Analisis serupa juga menemukan pola penghancuran terkontrol di sedikitnya 12 desa dan kota perbatasan lainnya.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim serangan terhadap rumah Elias dilakukan karena lokasi tersebut diduga menjadi titik peluncuran lima rudal anti-tank pada 6 Maret yang melukai empat tentaranya. Namun hingga kini, bukti visual atas klaim tersebut belum dipublikasikan.
Krisis Kemanusiaan Membesar
Kisah keluarga Elias mencerminkan penderitaan yang lebih luas. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 1,2 juta orang mengungsi sejak 2 Maret 2026. Hingga 30 April 2026, korban tewas akibat konflik di Lebanon telah melampaui 2.500 jiwa, dengan ratusan korban baru dilaporkan hanya dalam sepekan terakhir.
Meski gencatan senjata sempat diumumkan, laporan dari berbagai sumber seperti CNN, Al Jazeera, dan Reuters menunjukkan bahwa penghancuran masih terus terjadi di sejumlah wilayah.
Bagi komunitas Kristen di Lebanon selatan, yang telah lama hidup sebagai minoritas di tengah ketegangan kawasan, situasi ini semakin memperdalam luka. Desa-desa seperti Debl dan Ain Ebel juga melaporkan kerusakan rumah dan simbol-simbol rohani.
“Kami hanya ingin tinggal di rumah kami,” ujar seorang warga Kristen dalam laporan terpisah.
Di Balik Statistik, Ada Iman yang Bertahan
Joe Elias, yang pernah menjabat sebagai wali kota Qouzah selama lebih dari satu dekade, kini hanya bisa berpegang pada kenangan.
“Istri saya dan saya berusaha bertahan dengan apa yang tersisa… dengan kenangan yang perlahan hilang seperti puing-puing yang runtuh,” tuturnya.
Di tengah puing-puing perang yang belum usai, kisah ini menjadi pengingat kuat: di balik angka-angka korban dan laporan militer, ada manusia, ada keluarga, dan ada iman yang sedang diuji.
Bagi banyak orang percaya, ini bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga panggilan untuk terus mendoakan, bersuara, dan memperjuangkan damai yang sejati di tanah yang terluka. []
Editor: OYR
Dapatkan berita terbaru kami melalui:
Bagikan Artikel
Percakapan Jemaat
Komentar
0 komentar ditampilkan.
Tulis Komentar
Silakan isi nama dan alamat e-mail. Komentar tamu akan ditinjau moderator sebelum ditampilkan.